Ketika Ide Federasi Kembali Mengetuk Pintu Maluku Utara

oleh -173 Dilihat

Ia adalah persoalan tentang rasa memiliki.

Sebuah negara bisa mempunyai konstitusi yang indah, bendera yang berkibar di setiap halaman sekolah, lagu kebangsaan yang dinyanyikan setiap Senin pagi, dan semboyan persatuan yang tertulis di dinding-dinding kantor.

Tetapi semua itu akan kehilangan makna jika sebagian rakyat merasa republik hanya datang ketika membutuhkan hasil bumi mereka.

Negara bukan sekadar garis batas.

Negara adalah perasaan.

Perasaan bahwa ketika anak kita sakit, negara hadir.

Ketika nelayan pulang, negara hadir.

Ketika petani kehilangan pasar, negara hadir.

Ketika pulau kecil membutuhkan listrik, negara hadir.

Ketika kekayaan alam diambil dari tanah kita, negara hadir dengan keadilan, bukan hanya dengan izin.

Baca Juga  Sarmuji Terima Lencana Jer Basuki Mawa Beya Emas, Dorong Penguatan Kawasan Industri Jawa Timur

Dan ketika masyarakat mulai bertanya tentang masa depan, negara hadir dengan telinga yang terbuka.

Bukan dengan tangan yang gemetar karena ketakutan.

Karena itu, jangan takut pada federasi.

Takutlah pada ketidakadilan.

Jangan takut pada orang yang bertanya tentang bentuk negara.

Takutlah pada hari ketika rakyat berhenti bertanya karena mereka sudah tidak percaya bahwa pertanyaan akan pernah dijawab.

Sebab republik tidak akan pecah hanya karena orang berbicara.

Republik justru mulai retak ketika orang tidak lagi merasa memiliki alasan untuk tinggal.

No More Posts Available.

No more pages to load.