Ketika Ide Federasi Kembali Mengetuk Pintu Maluku Utara

oleh -173 Dilihat

Karena itu, Djabir Sjah tidak layak hanya dibaca dengan kacamata hitam-putih.

Ia adalah manusia sejarah.

Seorang Sultan yang berdiri di antara dua arus besar: nasionalisme Indonesia yang sedang tumbuh dan kepentingan daerah yang ingin mempertahankan ruang politiknya.

Ia memilih jalan yang pada zamannya mungkin dianggap masuk akal.

Dan sejarah kemudian menghukumnya.

Ketika Negara Indonesia Timur dibubarkan pada 1950, Djabir Sjah bahkan mengalami kecurigaan politik dari pemerintah Republik dan sempat ditahan sebelum akhirnya dibebaskan. Setelah itu ia lebih banyak berada di Jakarta.

Di situlah kita menemukan ironi sejarah.

Seorang Sultan dari kepulauan yang sejak berabad-abad sebelumnya memiliki sejarah pemerintahan sendiri, akhirnya hidup jauh dari tanah yang melahirkan namanya.

Baca Juga  ASDP Ambon Tegaskan Tiket Resmi untuk Motor di Pikap, Warga Diminta Tak Layani Pungli

Sejarah kadang memang begitu.

Ia tidak selalu memberi penghargaan kepada mereka yang menang.

Dan tidak selalu memberi tempat terhormat kepada mereka yang kalah.

Tetapi sejarah menyimpan semuanya.

Seperti laut.

Apa yang dibuang manusia ke dalamnya tidak benar-benar hilang.

Ia hanya tenggelam.

Suatu ketika, ombak membawanya kembali ke pantai.

Mungkin Kita Tidak Sedang Mengulang Sejarah

Maka ketika federalisme kembali terdengar di Maluku Utara hari ini, saya tidak tergesa-gesa menyebutnya sebagai nostalgia.

No More Posts Available.

No more pages to load.