Ketika Jalanan Menjadi Ruang Keadilan

oleh -5 Dilihat
Ansori

Peran Status Quo yang Menikmati Situasi

Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika kondisi ini justru dimanfaatkan oleh kelompok status quo—mereka yang selama ini diuntungkan oleh sistem yang timpang. Status quo akan selalu berupaya mempertahankan keadaan. Mereka menikmati privilese, fasilitas, dan kekuasaan yang lahir dari ketidakadilan.

Ketika pemerintah mencoba mengembalikan sistem ke jalan yang benar, kelompok status quo merasa terancam. Mereka ketakutan kehilangan kendali dan kenyamanan. Maka, tak jarang mereka ikut “mengompori” keresahan warga, memanipulasi emosi massa agar amarah rakyat diarahkan ke simbol-simbol negara. Dengan begitu, upaya pembenahan menjadi lumpuh, dan perhatian publik tersita pada kerusuhan, bukan pada reformasi.

Mengapa Simbol Negara Dibakar

Pertanyaan penting muncul: mengapa kantor polisi, gedung DPRD, kantor pemerintah, hingga Gedung Negara Grahadi dijadikan sasaran? Jawabannya ada pada makna simbolik.

Baca Juga  Fiskal Pemkab Halsel Masih Aman, DBH Kurang Bayar Rp102 Miliar Masuk RKUD

Polisi sering dianggap sebagai wajah negara yang dekat dengan rakyat. Ketika polisi gagal memberikan rasa aman, atau malah dianggap represif, kantor polisi menjadi simbol pengkhianatan atas tugasnya.

Gedung DPRD dan kantor pemerintah daerah dipandang sebagai pusat kekuasaan yang tidak lagi mewakili rakyat, melainkan kepentingan segelintir elit. Sementara Gedung Negara Grahadi di Surabaya, yang terbakar pada 30 Agustus 2025, menjadi gambaran jelas bagaimana simbol-simbol kebangsawanan negara bisa runtuh di mata rakyat ketika rasa keadilan diabaikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.