Karena itu, ketika media seperti Narasi berpindah tangan, yang berpindah sesungguhnya bukan hanya saham.
Ada sesuatu yang lebih subtil: modal simbolik.
Inilah yang membuat akuisisi media selalu lebih menarik diulas daripada akuisisi perusahaan biasa. Nilai sebuah media tidak seluruhnya tercermin dalam laporan keuangan. Ada nilai yang hidup di luar neraca: seberapa banyak orang mempercayainya, seberapa luas jangkauannya, siapa yang bersedia berbicara kepadanya, dan seberapa besar kemampuannya mengubah sebuah isu menjadi percakapan publik.
Maka pertanyaan kita tidak cukup berhenti pada: berapa harga Narasi?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang membuat Narasi layak dibeli?
Jika jawabannya hanya keuntungan finansial, kita tentu dapat menunggu laporan bisnisnya. Tetapi jika ada nilai lain yang lebih besar daripada sekadar pendapatan iklan dan monetisasi konten, kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang berbeda.
Kita sedang berbicara tentang kepemilikan atas sebuah kanal pengaruh.
Dan di situlah persoalannya mulai menjadi serius.
Sebab pengaruh dapat digunakan untuk banyak hal. Ia dapat memperluas jangkauan informasi, memperkuat kualitas jurnalistik, dan membuat sebuah media lebih sehat secara finansial. Tetapi pengaruh juga dapat menjadi sesuatu yang ingin dikendalikan.








