Oleh: Juantonio F. Titarsole, S.T, Master of Project Management, Curtin University
Sebagai wilayah kepulauan, Maluku menghadapi tantangan logistik yang kompleks diantaranya jarak antar pulau yang jauh, biaya transportasi tinggi, dan ketergantungan pada satu pelabuhan utama di Ambon. Akibatnya, biaya distribusi meningkat, waktu tempuh panjang, dan harga barang menjadi mahal di tingkat konsumen. Kondisi ini memperlemah daya saing ekonomi dan memperlambat pemerataan pembangunan antarwilayah.
Melalui gagasan Maluku Integrated Port, Maluku berpeluang menata ulang sistem logistiknya agar lebih efisien, berlapis, dan merata dengan memadukan dua konsep utama logistik modern: Double-handling (Richard Muther, 1961) dan Hub-and-Spoke (Morton E. O’Kelly, 1986).
Kedua konsep ini saling melengkapi. Muther menekankan efisiensi perpindahan barang bahwa setiap kali barang berpindah dari satu titik ke titik lain, akan ada tambahan biaya, waktu, dan potensi penurunan kualitas, terutama untuk komoditas sensitif seperti ikan atau hasil pertanian. Semakin sedikit proses pemindahan (handling), semakin rendah biaya logistik dan semakin terjaga mutu barang.
Sementara itu, O’Kelly memperkenalkan pendekatan jaringan logistik berbasis Hub-and-Spoke, di mana satu pelabuhan utama (hub) menghubungkan beberapa pelabuhan sekunder (spokes) secara terstruktur. Sistem ini mengefisienkan arus barang dalam skala besar dan memastikan setiap wilayah memiliki jalur akses yang jelas dan singkat ke pusat distribusi.
Jika digabungkan, kedua teori tersebut menghasilkan prinsip dasar sistem logistik modern: “Semakin sedikit titik perpindahan (handling) dalam jaringan logistik yang terdesain baik (hub-and-spoke), semakin tinggi efisiensi, kecepatan, dan kualitas distribusi barang.”
Dalam konteks Maluku, penerapan prinsip ini berarti memperpendek rantai logistik dari produsen ke konsumen dengan menciptakan jaringan pelabuhan terintegrasi, bukan sistem terpusat seperti saat ini.
Selama ini, hampir semua aktivitas logistik Maluku berpusat di Pelabuhan Ambon sebagai satu-satunya hub. Pola ini menimbulkan redundansi sistem, di mana semua komoditas bahkan yang berasal dari Pulau Seram, Buru, atau Tanimbar harus melewati Ambon sebelum dikirim keluar daerah.
Dampaknya jelas: waktu distribusi panjang, biaya meningkat, dan harga barang di wilayah luar Ambon jauh lebih tinggi.
Padahal, Pulau Seram memiliki potensi besar untuk menjadi hub alternatif:
Maluku Integrated Port, Mewujudkan Efisiensi Logistik dan Pemerataan Ekonomi di Maluku








