Sedangkan Munir dibunuh dengan cara yang lebih “rapi”, lebih modern, lebih terorganisasi. Ia diracun arsenik di atas pesawat Garuda Indonesia saat terbang menuju Belanda pada 2004. Pembunuhan itu bukan sekadar pembunuhan terhadap seorang aktivis, melainkan pesan politik yang mengerikan: bahwa ada wilayah gelap kekuasaan yang tak boleh disentuh terlalu jauh.
Kasus Munir sebenarnya bukan perkara rumit bagi sebuah negara yang sungguh-sungguh ingin membuka kebenaran. Jejaknya terang. Motif politiknya jelas. Arah kepentingannya pun bisa dibaca publik sejak awal.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: perkara itu seperti dipotong hanya sampai pada Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda Indonesia yang kala itu bahkan tidak sedang bertugas namun ikut dalam penerbangan Munir. Ia dijadikan terpidana, dihukum, lalu perlahan kasus besarnya dikaburkan dari ingatan publik.
Padahal pertanyaan paling mendasar tidak pernah benar-benar dijawab: siapa dalang sesungguhnya?
Dan di situlah publik melihat perbedaan yang menyakitkan antara Marsinah dan Munir.
Bukan pada nilai perjuangannya, sebab keduanya sama-sama mulia. Tetapi pada keberanian negara menghadapi kemungkinan keterlibatan kekuasaan dalam kematian mereka.









