Mengantar Gibran ke Timur

oleh -243 views

Namun pembangunan di Papua memang bukan sekadar soal keamanan. Ia adalah soal perasaan diterima. Soal keadilan. Soal hadirnya negara bukan hanya melalui pos-pos jaga atau papan proyek, tapi lewat kebijakan yang menyentuh martabat.

Dan ke sanalah Gibran dikirim.

Di Jakarta, langkah ini dibaca dalam dua wajah. Ada yang melihatnya sebagai simbol komitmen pemerintah untuk benar-benar serius terhadap Papua. Wakil presiden ditugaskan langsung. Tak lagi menunggu laporan. Ia melihat, mencatat, merespons sendiri.

Tapi ada juga yang bertanya, mengapa Gibran? Mengapa Papua?

Di kalangan politisi Senayan, muncul tafsir lain: bahwa Prabowo sedang menata ulang orbit kekuasaan. Gibran, yang datang dari garis politik Jokowi, ditempatkan di Timur agar tak terlalu dekat dengan dapur strategi pusat. Agar belajar, sekaligus agar jauh.

Baca Juga  Ratusan Warga Sanana Utara Antusias Ikuti Pengobatan Gratis Jelang HUT ke-23 Kepulauan Sula

Itu tafsir. Dan seperti semua tafsir politik, ia tak pernah mutlak. Tapi menarik untuk dicatat bahwa penempatan di Papua bukan hal ringan. Ia bukan hadiah. Ia tugas yang keras, berisiko, dan butuh lebih dari sekadar niat baik.

Jika Gibran memang akan tinggal, bukan hanya berkunjung, maka ia akan belajar banyak. Ia akan melihat bagaimana program-program negara dijalankan di tengah kontur alam dan sosial yang tak mudah. Ia akan menemui anak-anak yang berjalan berkilo untuk sampai ke sekolah. Ia akan bicara dengan tokoh adat yang bicara pelan tapi dalam.

No More Posts Available.

No more pages to load.