Menolak Modernitas

oleh -17 Dilihat

Oleh: Dr. M.J. Latuconsina, Akademisi Fisipol Universitas Pattimura

“Modernisasi pada akhirnya memang suatu permainan kekuatan. Ada yang tergusur, ada yang menggusur. Ada yang menang, ada yang telantar lemah..” Kata-kata ini merupakan qoutes dari Goenawan Mohamad, seorang budayawan Indonesia, yang populer melalui esai-esai politik bernuansa filosofis di Majalah Tempo.

Ungkapannya itu, merupakan fenomena kehidupan orang-orang kecil dari aspek sosial, budaya, hukum, dan politik. Di mana, mereka seringkali terpinggirkan atas nama modernitas. Padahal modernitas bukan jawaban untuk ketenangan kehidupan mereka, melainkan kekolotan-lah mereka menemukan ketenangan dalam kehidupan mereka.

Kebanyakan persepsi kita selaku khalayak publik memandang modernitas sebagai suatu kemajuan zaman, dalam berbagai bidang yang strategis dan vital, yang dicapai secara evolusi maupun secara revolusi. Dampaknya dirasakan secara luas oleh khalayak publik.

Kondisi ini membedakannya dengan era-era sebelumnya, yang dirasakan ketinggalan zaman. Sehingga bagi khalayak publik yang belum bisa menyesuaikan kehidupannya dengan kemajuan zaman, akan dicap sebagai kolot. Kekolotan tersebut sebenarnya bukan kondisi yang enggan beradaptasi dengan kemajuan zaman. Melainkan semata-mata karena ada sebagian besar khalayak publik, yang masih mendiami wilayah-wilayah yang terpencil. Sehingga memiliki keterbatasan dalam merasakan dan menikmati kemajuan zaman.

No More Posts Available.

No more pages to load.