Di sisi lain, PDIP juga pihak yang sangat-sangat dikhianati oleh orang yang dibesarkannya sejak orang itu benar-benar nothing hingga menjadi besar yang tiba-tiba mengidap keangkuhan yang keterlaluan. PDIP dizalimi oleh anak binaannya sendiri. Orang itu meninggalkan PDIP dengan tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Dari situ, Anies dan PDIP memiliki nasib yang sama, chemistry yang sama, sehingga apabila keduanya menyatu, maka itu akan menjadi kekuatan yang besar, sama-sama sebagai pihak yang dizalimi rezim dan kroninya.
Ketiga, meskipun Anies pernah menjadi Menteri Kabinet Jokowi tetapi kemudian ia dianggap sebagai oposisinya. Saat ini Anies adalah antitesa Jokowi dan semua pendukung rezimnya. Sisi lain, PDIP juga tak jauh berbeda. Meskipun PDIP yang mengusung Jokowi untuk kontestasi ke Pilpres 2014 dan 2019, tetap kini PDIP menjadi partai ditinggal oleh rezim, dan kini menjadi oposisi rezim.
Jadi, keduanya sudah dalam pihak yang sama, yaitu oposisi bagi rezim KIM. Jelas, jika keduanya bersatu, maka seluruh rakyat yang peduli dan memahami, akan mendukung keduanya.
Keempat, kepedulian dan pembelaan Anies terhadap rakyat kecil sangat menonjol dalam semua pemikiran, gagasan dan kebijakan, khususnya saat beliau menjadi Mendiknas dan Gubernur DKI. Anies adalah potret pejabat pemerintah yang mengutamakan keadilan bagi rakyat. Strategi “membesarkan yang kecil, meskipun tanpa mengecilkan yang besar,” adalah wujud idealisme Anies dalam bernegara.









