Merger Rumah Sakit Sofifi: Ketika Efisiensi Tak Boleh Mengalahkan Kemanusiaan

oleh -244 Dilihat

Oleh: Dr. Said Assagaf, Pengajar Pascasarjana UMMU Ternate

Di Maluku Utara, kebijakan publik belakangan ini seperti bola panas yang terus menggelinding. Dari dana bagi hasil, rencana pinjaman daerah, pemotongan TPP ASN, hingga wacana merger Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Jiwa Sofifi.

Yang terakhir ini bukan sekadar soal menggabungkan dua institusi ke dalam satu manajemen. Di balik kata merger ada pertanyaan yang jauh lebih penting: untuk siapa sebenarnya efisiensi itu dilakukan?

Merger, dalam pengertian dasarnya, adalah penggabungan dua atau lebih entitas untuk menciptakan sinergi, efisiensi, dan nilai tambah. Dalam dunia korporasi, logika ini masuk akal. Dua unit usaha yang memiliki karakter serupa dapat digabung agar biaya lebih rendah dan produktivitas meningkat.

Tetapi rumah sakit bukan sekadar unit usaha.

Baca Juga  Api di Tungku Sendiri dan Dua Puisi Lain Nuriman Bayan

Rumah sakit berhadapan dengan manusia, dengan tubuh yang sakit, keluarga yang cemas, bahkan dengan jiwa yang sedang berada di batas paling rapuhnya.

Karena itu, ketika konsep merger dibawa ke ruang pelayanan kesehatan, ukuran keberhasilannya tidak cukup berhenti pada berapa rupiah yang dapat dihemat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pelayanan menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih aman, dan lebih manusiawi?

No More Posts Available.

No more pages to load.