Dan yang membuatnya lebih mengkhawatirkan bukan hanya isi ucapannya, melainkan normalisasi yang menyertainya. Ketika seorang presiden bebas menyebut sebuah partai politik—dan jutaan warga yang berada di dalamnya—sebagai “sampah”, maka bahasa kekuasaan telah berubah menjadi bahasa pengucilan. Dari sana, jarak menuju perpecahan sosial menjadi semakin pendek, sebab dehumanisasi selalu bermula dari kata-kata.
Ironisnya, ejekan itu diarahkan kepada mereka yang berada dalam komunitas iman yang sama, namun memilih jalur politik berbeda. Ini bukan sekadar konflik ideologi, melainkan kegagalan paling elementer dalam memahami keberagaman di dalam satu bangsa—bahwa perbedaan pandangan politik tidak pernah membatalkan martabat kemanusiaan.
Dalam tradisi demokrasi modern, presiden tidak hanya bertugas menjalankan pemerintahan, tetapi juga menjaga bahasa bersama. Bahasa itulah yang menentukan apakah perbedaan dirawat sebagai kekayaan, atau dipelintir menjadi bahan bakar kebencian. Trump, berulang kali, memilih opsi kedua.
Bagi para pendukungnya, gaya Trump mungkin dianggap “jujur”, “apa adanya”, atau bahkan “menghibur”. Namun kejujuran tanpa tanggung jawab bukanlah keberanian; ia adalah kecerobohan yang dilegalkan oleh kekuasaan.









