
Menurut Matitaputty, membangun ekosistem keuangan inklusif di desa wisata, membutuhkan berbagai peran. Tidak hanya peran pemerintah daerah, tetapi yang paling penting adalah masyarakat setempat.
“Supaya masyarakat setempat yang menyadari bahwa negeri ini atau desanya memiliki potensi, itu yang paling utama. Berapapun banyaknya program, kerja baik dari pemerintah, di tingkat kabupaten, provinsi bahkan mungkin pusat, tetapi kalau kita sebagai masyarakat tidak menyadari potensi sebagai anugerah Tuhan bagi kita untuk kita kelola dan kita manfaatkan, ini semua akan menjadi mubazir,” tukasnya.
Dirinya juga menyampaikan, “Ini yang merupakan sebuah hal yang sangat baik dan langkah baik ke depan, karena teman-teman media bisa datang dan melihat sendiri kelebihan dan juga keterbatasan yang ada di Desa ini, dan ini mungkin bisa menjadi sebuah bentuk-bentuk intervensi lewat pemberitaan publik, untuk semua orang bisa datang gotong royong membangun Desa Alang Asaude, dengan Destinasi Wisata yang ada.
Tambahnya, “ini juga ada kesempatan baik bapak ibu dikunjungi oleh akademisi, mahasiswa dari Universitas Pattimura, karena Alang Asaude dipilih untuk menjadi sebuah kesempatan, bahwa ternyata Desa ini mulai dilirik dan mendapat perhatian dari banyak orang, untuk itu pada kesempatan ini kami cuman ingin menyampaikan siapkanlah diri bapak ibu sekalian, baik dari sisi sumber daya manusia, dan potensi Desa yang ada, untuk sama-sama saling tolong menolong.




