Beberapa menit kemudian, sebuah granat juga meledak di kota tetangga Shariff Aguak, tetapi tidak ada korban jiwa. Kedua kota tersebut terletak di provinsi Maguindanao.
Polisi mengatakan para korban telah berjalan dari desa pegunungan terpencil mereka untuk memberikan suara mereka di balai kota ketika TPS dibuka pada pukul 6:00 pagi pada hari Senin (9/5) di seluruh Filipina.
“Adalah kebiasaan mereka untuk turun lebih awal dari desa mereka, yang terletak delapan sampai 12 jam berjalan kaki,” kata juru bicara kepolisian provinsi tersebut, Mayor Roldan Kuntong.
3 Orang Tewas Ditembak
Insiden mengerikan kembali terjadi di wilayah Filipina Selatan. Namun kali ini terjadi sesaat setelah pemilu di negara tersebut berlangsung atau beberapa jam setelah 5 granat meledak.
Tiga petugas keamanan dilaporkan tewas pada Senin (9/5) ketika orang-orang bersenjata melepaskan tembakan di tempat pemungutan suara (TPS) di lokasi tersebut. Serangan maut ini terjadi saat jutaan warga Filipina memberikan suara dalam pemilihan umum (pemilu) nasional.
Penembakan mematikan itu terjadi tak lama setelah pemungutan suara dimulai di kotamadya Buluan di pulau Mindanao, basis bagi berbagai kelompok bersenjata mulai dari pemberontak komunis hingga militan Islam.




