Peringati Hari Christina Tiahahu, Aktivis Perempuan Maluku Nyatakan Terluka Dengan Makian Murad Ismail

oleh -142 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Ketua Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Pentury, menyatakan dirinya sedih dan terluka karena dari tanggal 22 Desember 2020 sampai 2 Januari 2021 ini, masyarakat dibuat sedih dengan kata-kata makian yang dilontarkan oleh Gubernur Maluku, Murad Ismail.

Hal ini disampaikan Rosa Pentury saat menyampaikan sambutan dalam acara peringatan Hari Pahlawan Nasional, Martha Christina Tiahahu yang ke-203 tahun, Sabtu (2/1/2021).

Kegiatan ini diadakan oleh para aktivis perempuan Maluku dan sejumlah organisasi kemasyarakatan sebagai refleksi atas perjuangan perempuan Maluku melawan penjajahan di pelataran Monumen Christina Martha Tiahahu Karang Panjang Ambon.

“Mungkin untuk orang tertentu menganggap hal ini biasa, tapi par beta seng biasa. Sedih memang, ini sesuatu yang terluka bagi saya, terobek-robek, tercabik-cabik, perempuan dibilang seperti itu,” ungkap Rosa.

Selain menyampaikan keprihatinan atas polah Murad Ismail yang memaki kaum perempuan, Rosa juga mengutarakan kekecewaannya terhadap para pejabat tinggi di Maluku karena tidak mengikuti kegiatan memperingati hari besar salah satu pahlawan perempuan di Maluku.

Baca Juga  Kasus Makian Enam Remaja Terhadap Oma ES Segera Diproses Polsek Sirimau

Ia menilai para pejabat daerah terlalu menganggap biasa hal ini. Padahal menurutnya Martha Christina Tiahahu merupakan salah satu pahlawan perempuan yang luar biasa, yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk Maluku walaupun usianya pada saat itu masih tergolong muda.

Senada dengan Rosa, Koordinator Suara Milenial Maluku, Katrin Selvina Wokanubun mengatakan, sejumlah organisasi dan aktivis perempuan akan berunding untuk membuat surat terbuka atau sejenisnya untuk menyikapi hal ini.

“Katong sangat memohon sekali sebagai pimpinan daerah Maluku, seemosi apapun jangan keluarkan kata makian karena tanpa sadar sudah melecehkan perempuan. Perempuan disini bukan hanya warga perempuan saja tetapi juga orang-orang terdekat yang bersangkutan seperti orang tua, saudara maupun istri yang bersangkutan. Ini menjadi pembelajaran supaya lain kali harus bisa kontrol kata-kata, jangan ada lagi makian, jangan ada lagi pelecehan-pelecehan secara verbal” ujar Wokanubun.

Baca Juga  Jabatan Asops Lantamal VIII Dan Komandan Toli - Toli Berpindah Tangan

“Untuk perempuan-perempuan Maluku dimana pun berada, dalam keadaan apapun saat ini, dalam profesi maupun pendidikan saat ini, ingat bahwa katong adalah generasi petarung atau generasi pejuang. Katong bertarung untuk segala kehidupan yang terjadi, katong bertarung untuk semua hal yang menjajah katong pung kehidupan. Jadi tetap semangat karena perjuangan katong saat ini untuk melakukan segala sesuatu yang baik bukan hanya untuk katong yang saat ini ada tapi juga untuk generasi yang akan datang”, imbuhnya.

Untuk diketahui, kegiatan peringatan Hari Martha Christina Tiahahu yang ke-203 tahun ini, dilaksanakan oleh LSM Inaata Mutiara Maluku dan dihadiri oleh sejumlah organisasi seperti Komunitas Suara Milenial Maluku, GMKI dan para jurnalis.

Baca Juga  Gagahi Mawar, Mic Meringkuk di Sel Mapolres Bitung

Katrin Wokanubun berharap kegiatan refleksi atau diskusi ini akan terus berlanjut. Ia juga berpesan kepada perempuan-perempuan Maluku untuk tetap semangat dalam berbuat baik.

Wokanubun bilang, dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar perempuan-perempuan Maluku mengikuti semangat dari pahlawan Maluku yaitu Martha Christina Tiahahu.

“Kegiatan ini dimaksudkan supaya bagaimana semangat Martha Christina Tiahahu di 203 tahun yang lalu masih bisa menjadi semangat yang tetap hidup sampai ke generasi-generasi sekarang khususnya perempuan-perempuan muda. Kesadaran akan semangat itu harus terus dibangun, oleh karena itu refleksi atau tukar pikiran, saling memotivasi terhadap perempuan harus tetap dilakukan,” ujar Wokanubun. (alena)