Selain hal di atas, potensi perlawanan pada Prabowo itu kemungkinan dari mana? Apakah dari oposisi, jikalau ada oposisi, ataukah dari Jokowi yang ingin membangun dinasti sampai ke anak-cucunya?
Analisa yang tajam terkait pertanyaan di atas sesungguhnya bertumpu pada pertama, lambatnya Prabowo menunjukkan “New Soekarno” nya dalam skala nasional.
Dia boleh hebat ketemu kepala negara asing, namun dalam mengarahkan republik ini, kewibawaannya “kalah” dengan Jokowi dan elite KIM. Kedua, Prabowo belum mendesain arsitektur kepala-kepala daerah ke depan bebasis “merit system”.
Kelihatannya memang pilihan KIM atas Cakada Jabar Seolah-olah menunjukkan superioritas Prabowo di KIM, karena mampu “menyingkirkan” Golkar dari Jabar. Namun, hal itu merupakan upaya menimbulkan masalah baru, yakni, jika KIM menang, rakyat Jabar memiliki pemimpin skandal KDRT.
Kedua, beredarnya isu Jokowi akan menguasai Golkar dan jejaring Golkar di kepala-kepala daerah ke depan, sebagai upaya mempertahankan dinastinya, adalah isu tak masuk akal.
Sebab, dalam sistem presidensial, apalagi Prabowo berlatarbelakang militer, tentu genggaman kekuatan Prabowo ke depan tidak mungkin disaingi Jokowi. SBY saja, sebagai jenderal yang dianggap “kurang militer” dan partainya kecil, mampu mengendalikan Golkar beberapa saat setelah dia menjadi presiden pada 2004.









