Porostimur.com, Jakarta – Bulan Ramadan merupakan momen penting bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la’allakum tattaqūn(a).
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pertanyaan tentang kapan puasa dimulai selalu menjadi perhatian umat Islam.
Penentuan awal puasa tidak hanya mengacu pada kalender Masehi. Penetapannya mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan dan umumnya ditentukan melalui metode hisab (perhitungan) atau rukyat (pengamatan hilal).
Perbedaan penetapan awal puasa antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah pun membuat sebagian masyarakat bingung.
Lantas, puasa Ramadan dimulai tanggal berapa menurut masing-masing ketetapan tersebut? Berikut penjelasannya.
Awal Puasa Menurut Pemerintah
Pemerintah belum menetapkan secara resmi tanggal puasa Ramadan dimulai karena masih menunggu pelaksanaan sidang isbat. Namun, berdasarkan kalender resmi, awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.









