Reza Rahadian, Laut Bercerita, dan Keberanian yang Tak Selesai

oleh -24 Dilihat

Di antara jalanan dan layar bioskop, antara suara protes hari ini dan ingatan tentang luka masa lalu, terbentang sebuah pertanyaan yang lebih besar daripada karier seorang aktor: apa yang terjadi ketika keberanian untuk bersuara dianggap sebagai ancaman?

Laut Bercerita bukan sekadar film tentang aktivis yang melawan kekuasaan. Diadaptasi dari novel Leila S. Chudori—novel best seller yang sudah masuk cetakan ke-100—kisah ini membawa kita ke penghujung Orde Baru, ketika Biru Laut dan kawan-kawannya memperjuangkan perubahan, tetapi justru menjadi korban penculikan dan penyiksaan. Mereka menghilang, meninggalkan keluarga yang bertahun-tahun menunggu kepulangan dan jawaban yang tak kunjung datang.

Salah satu bagian paling menyayat dari kisah itu bukan hanya penderitaan mereka yang diculik, melainkan nasib keluarga yang ditinggalkan. Orang tua dan adik Laut, Asmara Jati, harus menjalani kehidupan dengan ruang kosong yang tak bisa dijelaskan. Sebab, kehilangan tanpa kepastian berbeda dari perpisahan biasa: tak ada tempat untuk menuntaskan duka, tak ada jawaban untuk mengakhiri penantian.

Baca Juga  BPK Maluku Dorong Pelestarian Warisan Budaya Tomalehu Barat

Tragedi itulah yang tidak boleh terulang. Negara boleh berbeda pendapat dengan warganya, tetapi tidak boleh menjadikan penculikan, penyiksaan, dan penghilangan paksa sebagai cara membungkam kritik. Demokrasi kehilangan maknanya ketika seseorang harus takut kehilangan kebebasan hanya karena berani menyuarakan pikiran.

No More Posts Available.

No more pages to load.