Hingga di akhir penghujung perkenalanku bersamanya, dia menjabat tanganku, seraya mengatakan di depanku,
“Apakah kamu mau menjalani hubungan spesial bersamaku?, lebih dari teman maupun teman?”.
Bingung, itulah yang aku rasakan di malam ini. Sosok pria yang selalu aku lihat di Perkemahan ini, mengutarakan sebuah pernyataan yang berujung kepada suatu bentuk hubungan spesial?.
“Sudah lama aku mengagumi, dan mungkin, selama kita bertemu di perkemahan, aku suka dengan kamu Alvi” .
“Jadi, selama ini kamu mengagumiku?, bukankah kamu cukup terkenal dii Pramuka?, mengapa denganku?, aku hanya penegak biasa, dan tidak cukup terkenal”.
“Aku tidak peduli, toh, aku selalu melihat kamu dan telah kenal kamu sejak dulu. Bukankah kedua orangtua kita telah bersahabat sejak dulu kan?. Jadi, apakah ini salah?. Alvia, aku ingin kita terus bersama, dan lebih dari apapun”.
Sederet kalimat mulai bertebrangan di benakku. Aku harus memilih kalimat mana yang pas sebagai jawaban dari pernyataannya ini. Mustahil, ternyata dia adalah Zero, putra sulung dari pak Anwar, sahabat baik papa dan mama di Pramuka.
Mungkinkah ini bertanda sebagai jawaban untukku, aku harus melepas masa jombloku yang telah memenjaraku selama 3 tahun. Selepas Nizar yang pergi tanpa pamit, Zero datang dan mengutarakan perasannya.




