Puisi-Puisi: Jimmy Pattiasina

Genderang Perang Aru

Aku mungkin hanya mendengar cerita yang dihembuskan angin tentangmu Aru,
tetapi angin yang terhembus itu membuat bulu kudukku terus berdiri hingga kini, dan entah kenapa belum tertidur kembali, sebab aku tahu persis semangat solidaritas nenek moyang kita satu, sama-sama Kabaresi.

Aku mungkin belum menginjakkan kaki dan berdiri diatas tanahmu Aru,
tetapi jika aku berdiri di tanah Ambon, salah satu tanah raja, begitupun juga tanahmu itu tanah raja, pemberian nenek moyang kita, yang memiliki bau nafas yang sama, sebagai orang-orang Malenesia.

Aku mungkin mengangkat pena untuk melawan dengan tinta atau juga berteriak dengan keras, tetapi bagi kamu Aru,
angkatlah panah dan lawanlah sampai tumpah darah penghabisan,  jika ada orang dagang yang punya muka dua, atau yang memiliki lidah bercabang dua, yang berdesis siap mematukmu dari belakang, dapatilah mereka disekitarmu lalu potong putus bage dua.

Aku mungkin mengganggap suanggi hanyalah makhluk malam yang tak bisa berkeliaran pada waktu siang, tetapi bagi kamu Aru,
Lihatlah mereka telah berevolusi menjadi beringas di siang terang, mereka punya kekuatan membunuh saat kau lengah tak punya kekuatan, naluri mereka seperti binatang buas yang menunggu slak.

Aku mungkin bisa melihat ancaman itu serta tabaos dari sini, tetapi Aru, kau punya kekuatan besar untuk membuat benteng pertahanan sebelum perang,
Untuk selamatkan generasimu di dalam sejarah;  lindungilah pula hartaMu yaitu nyawa satwa-satwamu dari  monster pemakan segala. Jika mereka menang, mereka akan menjarah semua yang hidup di dalam air, di atas tanah, maupun di atas udara.

Aku mungkin hanya bertuah, tetapi bagi kamu Aru,
Aku berharap, jangan membuat orang lain terharu karena kasiang, tetapi habisilah mereka para bajingan berilmu kebal karena punya uang, dan bunuhlah mereka dengan anak panahmu yang ditikam sebelumnya ditanah; sebagai akal-akal untuk bunuh mereka yang berilmu hitam.

Tunjukan bagi mereka Aru, dan aku siap untuk menulis kisah perangmu sepanjang masa dan mengabadikannya diatas kertas bersirat emas.
Jika kamu mau, berperanglah, satu lawan seribu tak menjadi masalah, sebab ada seribu pejuang lainnya dibelakangmu, saat kau pukul tifa perang satu lawan satu.

Hai Aru, camkanlah ini!

Tak ada kain putih tanda menyerah, aku telah melihat banyak kapitang berada dibelakangmu.  Genderang tifa tahuri telah berbunyi di gunung tanah raja-raja, sebagai tanda perang besar.

Maju Aru
Majulah Aru!
Mena muria!
Lawamena haulala!

Habisilah mereka Aru!

Ambon, 13 September 2013

=========

Mari Maju

Mari menggebu..
maar jang mangamu..

Mari beradu..
maar jang berseteru..

Mari Keku..
maar jang kuku..

Ale Maluku..
Beta Maluku..

Lalu??

Mari katong samua dudu meku
Kal sejak dolo Maluku su laku.

Masohi, 1 November 2014

======

Hua Beta Melapor

Ya Hua yang satu
Ya Hua yang esa

KuasaMu tinggi seperti gunung batu
Bahkan luas sampai di timur meliputi tanah
di Halmahera.

Sebait doa penuh duka dan nestapa
Sebait doa pengantar damai yang dirampas
Sebait doa menguatkan beta pung basudara
Sebait doa untuk mengingatkan mereka yang tamak dan haus..

Tanah ini adalah firdaus,
melambangkan Halmahera yang harus dijaga dan dikelola
kerena mereka, di sana para penjaga tanah surga
telah di jarah hak-haknya dengan paksa

Sebait asa kami sesama saudara sebangsa
Sebait harapan kami menanti jawabanMu
Sebait nasehat pun tertera sama bagi kami dan mereka,
Bahwa kami adalah orang-orang yang sejak dahulu sering dijajah.

Hua ajarkanlah kami sabar
Hua ajarkanlah kami menanti kuasaMu
Hua ajarkanlah kami bertahan dalam dilema
Hua tolong dan dengarlah

Halmahera,
Maluku yang awal adalah di utara
tempat berkumpul Ur Siwa dan Ur Lima,
di akhir bait ini, beta Maluku harus berikrar,
jika suatu waktu telah di ambang batas,
Kirimkanlah tanda dan aroma merah menyala
Agar katong tau kalau ale dong ada cakalele deng gaga perkasa,
Maka Kapitang, Malessi, bahkan Mauweng
akan menari yang sama dari selatan menuju ke utara.

Ambon, 7 Maret 2015

======

Duurstede Ancorlele

Badiri di tanjong bunga karang
Dapa lia ba’sar sabuku mai
Tampa bajejer mariam, wapeng, sampe kalewang
Akang atlepa di jiku pante batu tabadiri

Dorang tukang kabualang ulang aleng
Laste takort musti putus bage dua di ujung parang
Itu makaart katong turunkan dar gunung saniri
Kahua Kabaressi para Kapitang deng Malessi

Hetu Uliaser bukang asal sabarang
Ale sala ale dapa, ale karas dapa pilang
Sei hale hatu, hatu lisa pei
Sei lesi sou, sou lesi ei

Meski bagitu bobou wangi cengke deng pala
Jadi sejarah perjuangan bangsa sejak dolo kala
Par baku tahang gunung deng tana
Dari tangang para penjajah durhaka..

Dengarlah, tembok bukang asal dar baja
Duurstede dibangong deng batu-batu Saparua
Mari katong torana akang
Serang pica dar sagala arah

Biking dorang gometar macang deng Lema
Biking dorang para mener barmaeng deng darah
Par yang muda akan mati deng karontji
Su baruma tangga akan linyap kas tinggal nama

Ambon, 25 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: