Karya: Aisyah Nur Hanifah

Berdesir angin malam menyibak kalbu, seraya menyentuh dengan lembut pintu tenda yang membuka lebar menghadap langit malam. Aku terduduk diam di depannya, seraya memainkan sebuah gitar akustik, dengan bersenandungkan sebuah lagu Raisa, “Mantan Terindah”.

Memetik dengan pelan setiap senar-senar putih halus, dan kembali lagi aku bersenandung dengan memejamkan mata mengingat dirinya yang disana aku rindukan, mantan kekasihku yang bernama Nizar. Seseorang yang telah tiga tahun bersamaku, namun secara sepihak tiba-tiba dia pergi tanpa kabar, setelah memutuskan untuk menjadi seorang prajurit TNI di Surabaya. Dia pergi tanpa pamit dan meninggalkanku begitu saja. Jika aku bertanya kepada kelima sahabatku, mereka mengatakan, jika Nizar tanpa langsung telah memutuskanku, walaupun tidak seratus persen aku mengiyakan pendapat kelima sahabatku tersebut.

“Lagu yang bagus”
Seorang para manis bertubuh tegap menghampiriku dengan senyumnya yang ramah. Tanpa izin, kemudian dia duduk di dekatku sembari melihatku dan menatap dalam sendu yang diam terpaku asyik memainkan gitarku.

“Aku boleh request lagu”
“Silahkan”
“Lagu Letto, (Ruang Rindu)”.
“Boleh”

Di malam itu, bersama derai angin-angin manja yang memukul pintu tenda pelan, di atas bentangan tikar anyaman bambu, aku dan dirinya, bersenandung lagu bersama-sama. Cukup keren, suaranya dan juga senyumnya, telah berhasil menghibur kesedihanku di malam ini.

Hingga di akhir penghujung perkenalanku bersamanya, dia menjabat tanganku, seraya mengatakan di depanku,
“Apakah kamu mau menjalani hubungan spesial bersamaku?, lebih dari teman maupun teman?”.
Bingung, itulah yang aku rasakan di malam ini. Sosok pria yang selalu aku lihat di Perkemahan ini, mengutarakan sebuah pernyataan yang berujung kepada suatu bentuk hubungan spesial?.
“Sudah lama aku mengagumi, dan mungkin, selama kita bertemu di perkemahan, aku suka dengan kamu Alvi” .
“Jadi, selama ini kamu mengagumiku?, bukankah kamu cukup terkenal dii Pramuka?, mengapa denganku?, aku hanya penegak biasa, dan tidak cukup terkenal”.
“Aku tidak peduli, toh, aku selalu melihat kamu dan telah kenal kamu sejak dulu. Bukankah kedua orangtua kita telah bersahabat sejak dulu kan?. Jadi, apakah ini salah?. Alvia, aku ingin kita terus bersama, dan lebih dari apapun”.

Sederet kalimat mulai bertebrangan di benakku. Aku harus memilih kalimat mana yang pas sebagai jawaban dari pernyataannya ini. Mustahil, ternyata dia adalah Zero, putra sulung dari pak Anwar, sahabat baik papa dan mama di Pramuka.

Mungkinkah ini bertanda sebagai jawaban untukku, aku harus melepas masa jombloku yang telah memenjaraku selama 3 tahun. Selepas Nizar yang pergi tanpa pamit, Zero datang dan mengutarakan perasannya.

Spontan, tanpa berpikir panjang, akupun mengiyakan ajakan dirinya tersebut, dan secara sah, di malam ini, aku memiliki kekasih baru yang kembali kutemukan di Bumi Perkemahan, perkenalkan dia adalah Zero Fernando Anwar.

1 BULAN KEMUDIAN…
Semua serasa indah, bak bunga melati dan mawar yang bermekaran di taman bunga milikku yang sengaja kutanam di depan rumahku. Semerbak wangi kedua bunga itupun seraya menggambarkan perasaanku yang kini juga telah berbunga-bunga bahagia.

Tetapi, harus kutelan ludahku, di pertemuanku yang ketiga dengan kekasih baruku Zero, siang terik jam 13.00 WIB, di sebuah cafe out door depan kampusku, sembari memelukku secara tiba-tiba, dia membisikkan sebuah kalimat,
“Sayang, maafkan aku, aku harus pergi satu minggu di Rainas 2017 di Cibubur.
Selama satu minggu kita tidak akan bertemu. Kamu jaga diri baik-baik ya disini Tetap setia, sampai aku kembali”, ucapnya dengan lembut, seraya tiba-tiba mencium keningku sangat lama.

Degggg

Apa yang harus kukatakan, walau sudah keempat kalinya aku berpacaran, aku berkata jujur, ini adalah untuk pertama kalinya mendapatkan kecupan kening dari kekasihku. Mataku berbinar, bukan hanya malu, dan terharu. Melihat wajahnya yang sendu, akupun berpikir, jika dia memang takdir cintaku yang terakhir. Sungguh, aku berjanji, aku akan tetap menjaganya agar tetap utuh dan tidak akan pernah melepaskannya.

“Aku tidak akan menghalangimu untuk pergi sayang. Satu hal yang aku harapkan, jaga diri kamu baik-baik disana ya”, ucapku kepadanya seraya membalas pelukannya tersebut dengan hangat.

6 HARIPUN BERLALU…
Bagai disambar petir dimalam hari. Seketika aku hendak makan siang bersama kelima sahabatku, tanpa sengaja, sebuah pesan massanger mendarat di ponselku. Sebuah pesan dari seorang wanita yang sangat tidak kukenal. Namun, jika melihat profilnya tersebut, dia sangat mirip seperti foto wanita yang tersimpan di galeri ponsel Zero. Aku pernah menanyakan ketika itu dengan Zero, dan dia mengatakan jika itu adalahh teman kecilnya.

“Iya, aku benar Alvia. But, kamu teman kecil Zero ya?”
Dreg… dreg… dreg…
“Teman kecilnya?, maaf Alvia, sepertinya kamu salah. Aku adalah pacar Zero. dan kami telah berpacaran selama satu tahun”
Sontak saja, pergelangan kakiku tiba-tiba terasa kaku dan nyeri. Kabar apa ini?, pacarnya?, dan setahun?.

“Kamu berbohong kan?”
“Aku Fila. Terserah kalau kamu tidak percaya. yang jelas, kamu jangan ganggu Zero lagi. Dan satu hal lagi, jangan pernah hasut Zero untuk tidak ketemu aku di Jakarta. Kamu kan hanya saudaranya, jadi kamu tidak punya hak apapun”
Membaca pesan massanger dari Fira, seketika tak dapat kubendung. Air mata membanjir runyam di kedua pipiku.

“Al, kamu tidak papa kan?, ada apa?”
Aku hanya bungkam, dan memeluk Desi dengan penuh erat. Aku memuntahkan tangisku di dalam pelukannya tersebut. Sakit hati, dan juga kebencian terhadap Zero sepertinya mulai membelenggu perasaanku sekarang.

“Dia membohongiku. Ternyata dia telah memiliki kekasih selama satu tahun ini”.
“Apaaaaaa?, sumpah, kenapa Zero begini sama kamu. Al, kamu harus telepon dia sekarang juga”.
“Tidak perlu Na, sudahlah, sekarang cukup aku tahu, jika sekarang memang Zero pembohong”.
“Alvia, aku percaya, akan datang yang terbaik untuk kamu, dan itu bukan Zero. Lupakan dia ya Al”.

KEESOKAN HARINYA…
18 AGUSTUS 2017
“Kak Alvia, ada yang mau bertemu sama kakak di luar”
“Siapa dek?”, tanyaku kepada Sari yang merupakan adik tingkatku.
“Hmmmm, kurang tahu, kakak liat langsung aja”.

Aku bergerak keluar Kelas, dan melihat siapakah gerangan yang ingin menemuiku siang ini. Dan, benar-benar hal yang sangat kubenci, tenryata yang ingin menemuiku, adalah Zero.
“Aku akan menjelaskan semuanya”
“Tidak perlu”
“Dengarkan aku, aku mohon”
Menatapnya, dan mencoba menahan tangisku. Sakit hati yang dulu sempat berkobar sangat lama di lubuk hatiku, ingin rasanya aku pendam dan kulempar di tempat yang jauh.
“Semua bukan salahmu Alvia, ini salah paham”, dengan berani dia memengang lengaku.

Parrrrrrrr
Tanganku, tiba-tiba mendarat di pipi kirinya. Dan lagi-lagi, air mata membanjiri kedua pipiku. Aku menangis di depan dirinya. Hanya bungkam tanpa sepatah katapun aku dapat utarakan.
“Aku tahu aku salah, maafkan aku Alvia”, lagi, dia mendekat ke arahku dan memelukku tiba-tiba.
“Aku pikir sudah saatnya aku harus berakhir dengan kamu. Jika kamu masih mencintainya, aku akan mundur dan pergilah dengannya”.

Aku melepas pelukannya, dan pergi meninggalkannya. Bagiku, sampai hari ini, aku berusaha untuk tidak membencinya. Namun, bagaimana dengan kecewa?, sungguh, aku tidak bisa mengatakan, jika aku mampu melupakan rasa kecewaku ini kepadanya. Zero, selamat tinggal!. Tidak seperti yang kuduga, kesan cinta ini terasa pahit tidak saat pertama kali kita bertemu. SAYONARA!!!

Tamat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: