Para pasien, serta praktisi di bimaristan, bisa jadi Muslim, Yahudi atau Kristen, dengan hingga 28 dokter melakukan pemeriksaan di setiap institusi. Sebagian besar rumah sakit juga mencakup apotek yang menjual obat-obatan atau pengobatan yang diimpor dari India.
Mayoritas rumah sakit didanai melalui dana abadi, sumbangan amal atau wakaf. Ketika wakaf didirikan, akan dibuat kontrak hukum yang mengatur syarat-syarat pengoperasian bimaristan. Dokumen-dokumen inilah yang memastikan bimaristan tetap membuka pintu dan layanannya bagi semua orang yang membutuhkan perawatan.
Di ibukota budaya kosmopolitan yang besar, seperti Bagdad, Damaskus atau Fes, kelas penguasa dan bangsawan akan merasakan kewajiban untuk menciptakan institusi demi kepentingan rakyat jelata.
Bimaristan, madrasah (sekolah) atau hamam (pemandian) tidak hanya akan meningkatkan taraf hidup orang biasa, tetapi juga dipandang sebagai tindakan amal yang pasti akan membuat penguasa lebih populer.
Rumah sakit Nur al-Din di Damaskus, yang didirikan oleh Sultan Zengid Nur-al Din Zengi, adalah contoh bagus bimaristan abad ke-12 yang menunjukkan upaya besar yang dilakukan sultan untuk melayani rakyatnya.
Lebih jauh ke barat, di medina lama Fes, Maroko, tanda-tanda bimaristan lain yang unik dan penting dapat ditemukan.









