Ia mulai dari gerakan perempuan, gerakan LGBTQ, gerakan-gerakan demokrasi, pendeknya semua gerakan kaum marjinal, didorong supaya bisa berpartisipasi dan punya kekuatan. Itulah masyarakat terbuka.
Di negeri kita, gelombang anti Soros pun sedang naik akhir-akhir ini. Teriakan “hai … antek-antek asing!” itu mengarah ke sana. Bahkan kemarin saya melihat staf kantor presiden membuat video yang merujak NGO-NGO yang menerima bantuan asing itu. Staf yang sama membuat pembenaran mengapa bos-nya ikut Board of Peace (BoP). Bahkan bikin singkatan baru Board of Prabowo.
Hanya saja, kelihatan argumennya kedodoran karena dia tidak bisa membedakan begitu banyak aktor – Soros hanya salah satu – pendana gerakan emansipasi di dunia ini.
Namun, satu hal yang jelas dari semua lini argumen yang dikemukakan oleh orang-orangnya rejim penguasa di Indonesia ini. Mereka semua membeo pada argumen rejim Trump di Amerika Serikat.
Untuk saya yang belajar sedikit-banyak politik Amerika, warna kanan Trumpisme Amerika sangat kental di rejim penguasa Indonesia saat ini.
Satu hal juga sama persis adalah bahwa rejim-rejim ini adalah ‘the master of complainer’ alias tukang mengeluh nomor satu. “Kita bangsa yang besar, yang dikibuli sehingga miskin terus!” … itu kalau di sini. “Make America Great Again” … itu kalau di sono.









