Syifa dan Mahan: Catatan Dari Ujung Gane

oleh -154 views
Link Banner

Oleh: Hasby Yusuf

Penulis adalah Ketua BKPRMI Maluku Utara

Siang itu kapal yang membawa kami berlabuh tepat di pantai berpasir putih desa Yomen. Inilah desa terparah dalam peristiwa bencana gempa Halmahera Selatan. Ratusan bangunan warga yang dibangun puluhan tahun itu, runtuh dan tak tersisa.

Link Banner

Tak jauh dari tempat kami menurunkan barang bantuan, mata saya tertuju pada dua orang gadis cilik berpakian lusu dan tak beralas kaki. Keduanya terus menatap kami. Saya berjalan menuju Syifa dan Mahan, nama kedua gadis kecil ini. Mereka menunjuk reruntuhan rumah mereka, saya memeluk dan mendekap mereka layaknya anak sendiri.

Kita sungguh beruntung, anak-anak kita masih nyenyak tidur dan masih bisa bergembira menikmati hari-hari mereka. Tetapi tidak bagi Syifa, Mahan dan anak-anak korban bencana. Mereka pasti kedinginan di tenda pengungsian. Mereka kehilangan mainan mereka, mereka tak lagi bisa menikmati ruang bermain seperti dulu. Inilah yang terus terbayang nasib Syifa dan Mahan yang saya temui.

Baca Juga  Oktober 2019, Kota Ambon dan Tual Alami Inflasi 0,28 Persen dan 0,01 Persen

Bagiku Syifa dan Mahan tidak sekedar gadis cilik, mereka adalah simbol penderitaan dan kesedihan. Melihat keduanya terbayang wajah anak saya Renthizi, Bayanullah dan Tufael. Air mata tak tertahan ketika Syifa dan Mahan saya peluk, seolah saya memeluk anak saya sendiri.

Derita dan duka yang di alami Syifa dan Mahan dan anak-anak korban bencana, bukan tidak mungkin juga akan dialami oleh anak kita. Bagi saya, ketika kita bergerak menolong mereka yang menderita sama dengan kita sedang menabung pertolongan untuk diri dan keluarga kita sendiri.

Syifa dan Mahan dan semua anak-anak korban bencana adalah anak kita sendiri. Jangan biarkan mereka terus berduka. Sekolah mereka boleh runtuh tapi pendidikan mereka tak boleh putus. Rumah mereka boleh saja hancur tetapi masa depan mereka tak boleh hancur.

Baca Juga  Kepala Bappenas Janji Dorong Penambahan DAU Maluku

Kita semua punya tanggungjawab moral untuk mereka. Semua bangunan yang hancur bisa mungkin kita bangun kembali, tetapi jika runtuhnya harapan sangat sulit dibangun kembali. Karena itu, pastikan bahwa kita sedang bersama mereka, dan tak akan pernah meninggalkan mereka.

Untuk Syifa dan Mahan, kalian tetaplah adalah anak kami selamanya. Syifa dan Mahan adalah amanah kemanusiaan yang akan kita panggul hingga waktunya menghadap Allah…(*)