Syifa dan Mahan: Catatan Dari Ujung Gane

oleh -68 views

Oleh: Hasby Yusuf

Penulis adalah Ketua BKPRMI Maluku Utara

Siang itu kapal yang membawa kami berlabuh tepat di pantai berpasir putih desa Yomen. Inilah desa terparah dalam peristiwa bencana gempa Halmahera Selatan. Ratusan bangunan warga yang dibangun puluhan tahun itu, runtuh dan tak tersisa.

Tak jauh dari tempat kami menurunkan barang bantuan, mata saya tertuju pada dua orang gadis cilik berpakian lusu dan tak beralas kaki. Keduanya terus menatap kami. Saya berjalan menuju Syifa dan Mahan, nama kedua gadis kecil ini. Mereka menunjuk reruntuhan rumah mereka, saya memeluk dan mendekap mereka layaknya anak sendiri.

Kita sungguh beruntung, anak-anak kita masih nyenyak tidur dan masih bisa bergembira menikmati hari-hari mereka. Tetapi tidak bagi Syifa, Mahan dan anak-anak korban bencana. Mereka pasti kedinginan di tenda pengungsian. Mereka kehilangan mainan mereka, mereka tak lagi bisa menikmati ruang bermain seperti dulu. Inilah yang terus terbayang nasib Syifa dan Mahan yang saya temui.

Baca Juga  Juventus dan AC Milan Gagal ke Liga Champions, Capello: Seperti Bunuh Diri

Bagiku Syifa dan Mahan tidak sekedar gadis cilik, mereka adalah simbol penderitaan dan kesedihan. Melihat keduanya terbayang wajah anak saya Renthizi, Bayanullah dan Tufael. Air mata tak tertahan ketika Syifa dan Mahan saya peluk, seolah saya memeluk anak saya sendiri.