Namun ada satu lapisan yang sering luput dari perhatian: kontradiksi dolar.
Indonesia, seperti banyak negara Global South lainnya, mulai mendorong diversifikasi mata uang. Transaksi bilateral dalam mata uang lokal, penguatan lembaga seperti New Development Bank (NDB), hingga upaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika.
Semua ini tampak seperti langkah menuju dunia pasca-dolar. Tapi pada saat yang sama, kontrak pertahanan, teknologi, dan sebagian besar perdagangan strategis tetap berdenominasi dolar.
Ini bukan inkonsistensi. Ini realitas transisi. Barry Eichengreen dari University of California, Berkeley, pernah menegaskan bahwa dominasi dolar tidak runtuh dalam semalam. Ia tidak digulingkan — ia perlahan dikikis.
Maka yang kita lihat hari ini bukanlah penggantian sistem, tapi penumpukan sistem. Dunia lama belum mati. Dunia baru belum lahir sepenuhnya. Dan di celah inilah negara-negara seperti Indonesia menemukan ruang geraknya.
Metaforanya sederhana: dunia sedang berada di antara dua musim. Musim lama belum benar-benar pergi. Musim baru belum sepenuhnya datang. Udara menjadi tidak menentu. Bagi yang tidak siap, ini adalah kekacauan. Tapi bagi yang cermat, ini adalah peluang.
Indonesia tampaknya memilih menjadi petani yang sabar — menanam di dua musim sekaligus. Namun strategi ini tidak tanpa risiko.









