Temukan Tengkorak 3,8 Juta Tahun, Ahli Bingung soal Asal Usul Manusia

oleh -31 views
Link Banner

Porostimur.com | Ethiopia: Peneliti menemukan tengkorak kera yang mirip nenek moyang manusia berumur 3,8 juta tahun di Ethiopia.

Analisis terhadap spesimen ini berpeluang mengubah gagasan bagaimana manusia pertama berevolusi dari nenek moyang yang mirip kera.

Ide bahwa manusia pertama antara lain berevolusi dari kera yang diberi nama Lucy, mungkin harus dipertimbangkan ulang.

Penemuan baru ini dilaporkan di jurnal Nature.

Link Banner

Tengkorak ini ditemukan oleh Prof. Yohannes Haile-Selassie di tempat bernama Miro Dora, yang berada di Distrik Mille di Afar, Ethiopia.

Ilmuwan yang berafiliasi ke Cleveland Museum of Natural History di Ohio, Amerika Serikat, ini menyatakan ia segera bisa mengenali nilai penting fosil ini.

“Saya bilang ke diri saya sendiri, ‘Ya Tuhan, benarkah yang saya lihat ini?’ Tiba-tiba saya melompat kegirangan ketika tahu inilah yang saya impikan selama ini,” katanya kepada BBC News.

Kolase Foto: JENNIFER TAYLOR/CLEVELAND MUSEUM OF NATURAL HISTORY/DALE MORI AND LIZ RUSSELL; JOHN GURCHE AND MATT CROW/CLEVELAND MUSEUM OF NATURAL HISTORY/net

Prof. Haile-Selassie mengatakan spesimen ini merupakan contoh terbaik dari makhluk mirip kera yang dianggap jadi nenek moyang manusia yang diberi nama Australopithecus anamensis.

Ia merupakan australopithecine tertua yang pernah hidup sekitar 4,2 juta tahun lalu.

Baca Juga  Update Corona 19 Agustus: Kasus Sembuh di Maluku Utara Melonjak

Diperkirakan A. anamensis merupakan nenek moyang langsung dari spesies yang diberi nama Australopithecus afarensis.

Sedangkan A. afarensis diperhitungkan menjadi nenek moyang langsung kelompok (genus) manusia, yang dikenal dengan sebutan Homo, yang termasuk di dalamnya manusia yang hidup sekarang ini.

Penemuan pertama kerangka afarensis di tahun 1974 menyebabkan sensasi. Ia diberi nama julukan Lucy oleh para ilmuwan yang berasal dari lagu The Beatles, Lucy in the Sky With Diamonds, yang diputar di situs penggalian.

Lucy disebut sebagai “kera pertama yang berjalan” dan berhasil menarik perhatian publik.

Namun Profesor Fred Spoor dari Natural History Museum, London, menyatakan bahwa anamensis “tampaknya akan menjadi ikon dari evolusi manusia“.

Alasannya karena anamensis dan afarensis ternyata pernah hidup berdampingan.

Anggapan bahwa anamensis berevolusi secara langsung menjadi afarensis seperti yang diduga sebelumnya, bisa jadi keliru.

Baca Juga  PMI Minta Kasus Penyerangan Ambulans Diusut

Kesadaran ini muncul dari interpretasi ulang terhadap fosil potongan tengkorak berusia 3,9 juta tahun. Potongan ini dianggap anamensis, tapi ternyata, setelah dibandingkan dengan fosil baru ini, potongan itu adalah milik afarensis.

Jelas bahwa kedua spesies ini pernah hidup berdampingan selama sekitar 100.000 tahun.

Kemungkinannya, sekelompok kecil anamensis terisolasi dari populasi utama dan kemudian berevolusi menjadi afarensis ketika beradaptasi dengan keadaan setempat.

Kedua spesies berdampingan sebelum sisa-sisa anamensis punah.

Penemuan ini penting karena menunjukkan tumpang tindih spesies mirip kera bisa terjadi, membuka kemungkinan berbagai rute evolusi menuju spesies manusia pertama.

Singkatnya, penemuan ini tidak membantah bahwa Lucy menghasilkan genus Homo. Namun ini membuka perdebatan tentang adanya kemungkinan spesies lain yang bisa jadi asal-usul manusia.

Seperti dinyatakan Prof. Haile-Selassie: “Selama ini afarensis dianggap penjelasan terbaik nenek moyang manusia, tapi kini tidak begitu lagi. Kita bisa melihat berbagai spesies yang ada di masa itu dan meneliti, yang mana yang paling mungkin berevolusi jadi manusia pertama”.

Baca Juga  Berbagi Kasih Natal, Jafry Taihuttu Santuni Janda dan Duda

Istilah “tautan yang hilang” atau “missing link” dalam jurnalisme dan wacana populer untuk menggambarkan fosil yang dianggap “separuh kera separuh manusia” sangat tak disukai para ilmuwan.

Ini terutama ada banyak tautan dalam sejarah evolusi manusia – dan kebanyakannya memang belum ditemukan.

Anamensis merupakan tautan terbaru dalam rangkaian penemuan terakhir, yang memperlihatkan tak ada satu garis tunggal evolusi menuju manusia modern.

Prof. Haile-Selassie merupakan salah satu dari sedikit ilmuwan Afrika yang meneliti tentang evolusi manusia.

Namanya kini dikenal, tetapi ia menyatakan sulit bagi ilmuwan Afrika untuk mendapatkan dukungan finansial dari organisasi riset negara-negara Barat.

“Kebanyakan fosil terkait asal-usul manusia berasal dari Afrika dan menurut saya seharusnya ilmuwan Afrika bisa menggunakan sumber-sumber yang ada di benua mereka sendiri untuk memajukan karir mereka sebagai ahli purbakala,” katanya. (red/kcm)