Tumbal di Rempang

oleh -412 views

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura

Semalam, sekitar pukul 00:25 WIB, warga Kampung Tua Rempang diserang oleh orang-orang yang diduga sebagai karyawan PT Makmur Elok Graha. Ini adalah perusahan milik seorang Taipan yang ingin mengubah Pulau Rempang menjadi “eco-city.”

Pulau ini hendak dijadikan kota dengan nuansa hijau, ramah lingkungan, dengan industri — salah satunya adalah industri kaca yang produknya sel-sel solar untuk energi yang terbarukan.

Sama seperti pembangunan-pembangunan lain di negeri ini, maxim dari jaman Soeharto masih tetap berlaku, “jer basuki mawa beya.” Artinya, untuk menjadi makmur itu butuh beaya. Artinya, harus ada yang berkorban (dan dikorbankan) untuk mencapai “kemakmuran” itu.

Budayawan Rm. Mangunwijaya pernah melontarkan kritik terhadap pola pembangunan yang timpang ini. Ini pernah ditulisnya ketika menangani pembangunan waduk Kedungombo. Ketika itu, pemerintahan Orde Baru mengatakan bahwa waduk ini akan mengairi sekian puluh ribu hektar dan akan membawa kemakmuran untuk sekian juta petani.

Baca Juga  Kapolres Halsel Tegas Tertibkan Tambang Ilegal, Warga Diminta Hentikan Aktivitas

Namun, ada puluhan ribu penduduk harus berkorban untuk “kemakmuran” itu. Mereka harus pindah. Kampung-kampung mereka akan ditenggelamkan. Untuk Rm. Mangunwijaya, para penduduk Kedungombo ini adalah “tumbal” pembangunan. Di dalam nilai tradisional di beberapa daerah, konsep ini berlaku untuk orang-orang yang mencari kekayaan (kemakmuran) dengan cara-cara tidak wajar. Misalnya, memelihara tuyul untuk menjadi kaya. Ada anak yang harus ditumbalkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.