Menetapkan batasan bukanlah tindakan egois; sebaliknya, ini adalah bentuk self-care yang membantu menjaga energi dan kesehatan mentalmu. Jangan merasa bersalah untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak sesuai dengan kapasitas emosionalmu. Ini adalah cara menjaga dirimu tetap utuh meskipun dalam kondisi rapuh.
Dengan menetapkan batasan yang jelas, kamu bisa membangun ruang aman untuk proses pemulihan. Ingat, memprioritaskan diri sendiri bukan berarti mengabaikan orang lain, tetapi memastikan dirimu cukup kuat untuk berbagi dengan mereka.
5. Mengembangkan Sikap Berterima Kasih

Di tengah rasa sakit yang mendera, mungkin terasa sulit untuk menemukan hal-hal yang patut disyukuri. Namun, Sahabat Fimela, sikap berterima kasih mampu mereset pola pikir dari negatif menjadi lebih positif. Berterima kasih bukan berarti menyepelekan luka yang ada, tetapi menghargai keberadaan hal-hal baik yang mungkin tertutupi oleh rasa sakit.
Cobalah untuk membuat daftar harian hal-hal yang kamu syukuri. Ini bisa berupa hal sederhana seperti matahari yang cerah, sapaan hangat seorang teman, atau bahkan keberanianmu untuk melewati satu hari lagi. Kebiasaan ini dapat membantu mengalihkan fokus dari luka menuju aspek-aspek positif yang ada di sekitarmu.











