Luka Moral Amerika

oleh -7 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Amerika, negeri yang selama ini gemar mengajar dunia tentang demokrasi dan hak asasi, tiba-tiba seperti pasien yang membuka baju di ruang gawat darurat. Tampak luka itu ada, dalam, dan bernanah.

Bukan luka ekonomi, bukan pula sekadar polarisasi politik, tetapi sesuatu yang lebih sunyi dan lebih berbahaya — luka moral.

Seorang veteran sekaligus psikolog klinis, Michael Valdovinos dalam tulisannya di Time, menyebut luka moral Amerika itu sebagai pandemi yang diam-diam menyebar di dalam jiwa bangsa.

Gambaran yang ia sajikan bukan metafora kosong. Anak-anak dipisahkan dari orang tua tanpa kejelasan hukum. Warga ditangkap oleh orang bertopeng tanpa identitas.

Baca Juga  Yeremias: Musda Golkar Maluku Tenggara Ditunda Sampai Ada Pemberitahuan

Di mana-mana di seluruh Amerika, orang-orang menyaksikan ketidakadilan yang terang-benderang, namun tak berdaya menghentikannya.

Dan di situlah tragedinya. Bukan hanya yang menjadi korban yang terluka, tetapi juga yang menyaksikan, yang diam, yang bingung, yang marah, yang perlahan kehilangan arah moralnya.

Di titik ini, Amerika seperti seorang hakim yang tiba-tiba sadar palunya dipakai untuk memukul kepala sendiri.

Istilah moral injury (luka moral) awalnya lahir dari medan perang. Para tentara yang pulang bukan hanya membawa trauma karena takut mati, tetapi karena merasa telah mengkhianati nilai terdalam mereka sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.