Paradoks Ade Armando

oleh -23 views

Oleh: Hasyim Arsal Alhabsi, Direktur Dehills Institute

Ada ironi yang lebih merusak dari kebohongan polos: yakni separuh kebenaran yang dikemas oleh seseorang yang tahu persis cara kerjanya. Bukan oleh orang yang tak mengerti bedanya framing dan fakta, melainkan oleh orang yang selama bertahun-tahun mengajarkan perbedaan itu dari mimbar akademik.

Ketika seorang pendiri lembaga anti-hoaks menjadi operator narasi yang memotong konteks demi tujuan politik — saat itulah kita berhadapan bukan sekadar dengan kejatuhan moral, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan: penggunaan kompetensi untuk melawan tujuan semula kompetensi itu diciptakan.

Ade Armando adalah nama yang mengondensasi seluruh paradoks itu.

Arsip Seorang Penjaga

Baca Juga  Napoli Tumbang dari Lazio, Inter Milan Bisa Scudetto Pekan Depan

Ade Armando bukan nama sembarangan dalam peta intelektual Indonesia. Ia dosen Ilmu Komunikasi di FISIP Universitas Indonesia — institusi yang melahirkan generasi pemikir kritis tentang media, pesan, dan kekuasaan. Lebih dari sekadar mengajar, ia ikut mendirikan MAFINDO, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa desinformasi adalah racun demokrasi. Nama MAFINDO menjadi salah satu rujukan dalam ekosistem literasi digital Indonesia: lembaga yang mengajari publik cara membedakan fakta dari fabrikasi, cara membaca klaim tanpa tergesa-gesa menelannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.