9 Insinyurnya Tewas dalam Serangan Bom di Pakistan, Kini Pekerja China Bawa Senapan AK-47 saat Bekerja

oleh -77 views
Link Banner

Porostimur.com | Pakistan: Beberapa hari setelah bus yang membawa insinyur China di Pakistan menjadi sasaran bom, kini muncul foto foto pekerja Tiongkok menyandang senapan AK-47 saat bekerja di berbagai proyek CPEC (China Pakistan Economic Corridor) di Pakistan.

14 Juli 2021, sembilan insinyur China dan tiga pekerja Pakistan tewas dalam serangan bom yang mengakibatkan bus yang membawa mereka terjun ke sungai Dasu di kawasan pegunungan terpencil Distrik Kohistan, Khyber Pakhtunkhwa. 

Dua dari tiga korban warga Pakistan merupakan anggota militer yang mengawal pekerja China.

Saat itu bus itu membawa lebih dari 30 orang ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Dasu (Dasu hydropower project) yang merupakan bagian CPEC – rencana investasi senilai 65 miliar dolar AS yang mencakup jaringan jalan, kereta api, dan jaringan pipa antara kedua negara.

Awalnya Pakistan mengklaim serangan bom ini merupakan masalah teknis pada mesin bus hingga terjun ke Sungai Dasu.

Namun China berkeras adalah serangan teror pada pekerja China dan akhirnya mengirim tim penyelidiknya sendiri ke Pakistan.

Bus yang membawa insinyur China menjadi sasaran bom, hingga terjun ke sungai.
Bus yang membawa insinyur China menjadi sasaran bom, hingga terjun ke sungai. (afp)

Sebelumnya China telah menggelontorkan sejumlah besar uang untuk menciptakan, melatih, dan memperlengkapi dua Divisi Keamanan Khusus (Special Security Divisions/SSD), Divisi Infanteri Ringan 34 dan 44 yang masing-masing beranggotakan 15.000 tentara.

Baca Juga  Pemikiran Cak Nur Untuk Generasi Millenial

Divisi Cahaya ke-34 dibentuk pada September 2016, dan Divisi Cahaya ke-44 dibentuk pada tahun 2020.

Angkatan Darat Pakistan telah meminta dan menerima uang untuk melengkapi divisi-divisi ini. Namun, mereka gagal menjalankan tugasnya sehingga militer Pakistan juga jadi sasaran serangan pemberontak.

Satu serangan terhadap militer Pakistan di antaranya terjadi di Ormara pada 15 Oktober 2020, ketika 14 personel keamanan Pakistan diseret keluar dari bus dan dibunuh oleh militan Baloch (Balochistan).

Selama ini militer Pakistan menjaga pekerja dan insinyur China di Pakistan selama 24 jam.

Foto-foto yang menunjukkan para insinyur dan pekerja China menyandang senapan AK-47 di bahu mereka saat bekerja menimbulkan dugaan meningkatnya ketidakpercayaan antara kedua negara.

Serangan terhadap pekerja China dalam proyek CPEC disebut-sebut merupakan wujud keresahan warga lokal, karena pekerjanya lebih banyak dari luar.

Kelompok Teroris yang Diduga Pelaku 

Qian Feng, Direktur Departemen Penelitian di Institut Strategi Nasional Universitas Tsinghua, kepada Global Times (media pemerintah China)  mengatakan teroris Balochistan dan Taliban Pakistan kemungkinan menjadi sponsor serangan bom tersebut.

Baca Juga  Jelang Musda, PAN Kota Ternate Buka Pendaftaran Bacalon Ketua

Provinsi Khyber Pakhtunkhwa adalah wilayah paling rawan di Pakistan, karena berbatasan dengan Afghanistan dan merupakan rumah bagi Taliban Pakistan. 

Qian mengatakan Taliban Pakistan mendapatkan ketenaran dengan menyerang pemerintah Pakistan, warga sipil dan tentara. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok teroris telah menargetkan proyek-proyek China di negara itu, dan meluncurkan serangan terhadap turis China, serta pengusaha, karena mereka tahu bahwa Pakistan sangat mementingkan hubungan China-Pakistan, dan mereka bertujuan untuk menggunakan serangan tersebut untuk menyabotase hubungan bilateral.

Aksi terorisme Taliban Pakistan diredam militer Pakistan, tapi baru-baru ini meningkat setelah penarikan AS dari Afghanistan.

Kohistan di Pakistan utara, dekat Kashmir topografinya pegunungan tinggi dan jalur terjal, jadi sarang organisasi teroris yang sulit untuk ditindak.

Pemerintah Pakistan juga memiliki kontrol yang lemah di provinsi tersebut dengan Taliban Pakistan yang berbasis di sana dan menggunakan sistem hukum mereka sendiri untuk mengontrol wilayah tersebut.

Wang Shida, Wakil Direktur Institut Penelitian Asia Selatan, Asia Tenggara dan Oseania dari Akademi Penelitian Hubungan Internasional Kontemporer China, menunjukkan ada tren peningkatan serangan terhadap proyek yang didanai China dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga  Rusunrey Kecam Oknum yang Bawa Nama PMII Ambon & Kelompok Cipayung

Kata Wang, pemicunya karena kemajuan yang dihasilkan CPEC.

Beberapa orang di dalam dan di luar Pakistan tidak ingin melihat ini dan selalu berusaha menciptakan insiden untuk menunda kemajuan, kata Wang.

Teroris “Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM)” yang melarikan diri dari Afghanistan ke Pakistan juga dapat melakukan serangan teror yang menargetkan orang China, kata Cao Wei, seorang ahli studi keamanan di Universitas Lanzhou.

Cao mencatat bahwa Taliban Afghanistan, yang biasa menyediakan perlindungan bagi teroris ETIM yang tersebar di negara itu.

Namun Qian menunjukkan tidak ada kelompok teroris yang mengklaim bertanggung jawab, kemungkinan serangan itu dilakukan oleh pasukan pihak ketiga – badan intelijen dari negara ketiga.

Qian mencatat bahwa insiden tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan beberapa perusahaan China dalam berinvestasi di Pakistan, yang membutuhkan Pakistan untuk melakukan lebih banyak upaya dalam melindungi perusahaan China. 

(red/tribunmedan/india today/global times)