Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Saya berselancar di lini masa saya. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Saya melihat satu berita yang diteruskan oleh algoritma saya. Ia penerusan berita dari tempat lain. Isinya sederhana: warga diminta menghentikan sejenak kegiatannya pada detik-detik Proklamasi Kemerdekaan.
Yang tidak lazim adalah tanggapan balik dari (sebagian). Sebagian terbesar sangat negatif. Mereka bukan menolak ide ini. Tapi mengomentari pemerintahan saat ini dianggap tidak membuat rakyat sejahtera. Tidak ada kebijakan yang membuat rakyat merasa optimis bahwa mereka memiliki masa depan.
Hal yang sama saya temui di beberapa platform media sosial. Beberapa unggahan dari Presiden Prabowo di Facebook, Instagram, atau TikTok, penuh dengan nada negatif. Satu dua ada yang memuji Presiden. Tidak mengherankan karena dia menang pilpres dengan 58%. Tertinggi diantara perolehan presiden lain kecuali Soeharto, mantan mertuanya. Tapi Soeharto tidak dipilih langsung. Ia dipilih MPR dan selalu secara aklamasi.
Dua isu yang saya amati sangat diperhatikan: korupsi dan pajak. Isu korupsi ini memang bagai kanker di negeri ini. Biasanya orang marah. Itu layak. Namun kini kemarahan tampaknya bertumpuk karena soal pajak. Orang sudah mulai merasakan bahwa pajak ini mencekik leher.









