Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
Siapa yang naik podium tanpa persiapan, dia akan turun tanpa kehormatan. Begitulah prinsip yang harus selalu diingat dalam berpidato. Pengecualian tentu ada. Salah satunya adalah Abu Nawas yang cerdik, yang ceritanya pernah saya dengar dari ustadz pelatih pidato di pesantren.
Suatu hari, Abu Nawas dipaksa naik mimbar untuk berkhotbah karena khatib yang bertugas hari itu tidak datang. Abu Nawas pun menyerah. Setelah mengucapkan salam, dia berkata, “Apakah kalian mengetahui apa yang akan saya sampaikan?” “Tidak,” kata jemaah. “Kalian yang banyak jumlahnya saja tidak tahu, apalagi saya seorang diri,” kata Abu Nawas. Dia pun turun dari mimbar.
Namun jemaah kembali memaksanya naik mimbar. Abu Nawas mengalah. Setelah mengucapkan salam, dia bertanya lagi pada jemaah, “Apakah kalian mengetahui apa yang akan saya sampaikan?” Karena jemaah sudah tahu akibatnya jika dijawab ‘tidak’, maka mereka serentak menjawab “Ya.” Abu Nawas tersenyum. “Jika kalian sudah tahu, berarti saya tidak perlu lagi bicara.” Dengan santai dia turun dari mimbar.
Jemaah penasaran. Abu Nawas sekali lagi didorong naik mimbar, dan dia tidak menolak. Setelah menyampaikan salam, Abu Nawas kembali bertanya, “Apakah kalian mengetahui apa yang akan saya sampaikan?” Untuk membuat Abu Nawas bingung, sebagian jemaah menjawab ‘ya’ dan sebagian lagi menjawab ‘tidak’. “Kalau begitu, saya minta jemaah yang sudah tahu memberitahu jemaah yang belum tahu,” katanya. Dia turun dari mimbar penuh kemenangan!




