Ambalau dan Kasih yang Tak Sampai

oleh -197 views
Link Banner

Oleh: Hasan Bahta, Pemuda Buru Selatan

Dalam benak pejabat angkuh dan sombong, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Buru Selatan, Maluku hanya dijadikan basis suara saat pemilihan tiba. Selebihnya pulau unyil ini ditertawakan sepanjang hidup mereka. Kalau tidak, mengapa infrastruktur jalannya tidak dikerjakan sampai hari ini?

Jika tidak salah Pulau Ambalau adalah salah satu kecamatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang belum memiliki infrastruktur jalan. Padahal hampir sepuluh tahun terakhir, presiden negara ini menjadikan infrastruktur jalan sebagai program prioritas. Saking prioritasnya, puluhan bahkan ribuan rumah warga di Jakarta digusur. Baginya, infrastruktur jalan adalah jantung pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara.

Pulau Ambalau termasuk salah satu kecamatan tertua di propinsi Maluku. Tertua karena sebelum berada di Kabupaten Buru Selatan, kecamatan ini pernah menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Buru dan Maluku Tengah. Ibarat manusia, usianya sudah sangat senja dan terlihat lemas. Karena terlalu sering menelan janji manis, pulau ini nampak terinfeksi penyakit gula, darah tinggi dan hampir lumpuh sehingga lebih banyak diam ketimbang berteriak lantang menuntut hak hidup layak.

Karena letaknya relatif jauh dari pusat pemerintahan dan kota, Pulau Ambalau ini sangat terisolir dan tak terjangkau kebijaksanaan dan kebijakan pemerintah. Bahkan sering menjadi bahan candaan dan lelucon bagi orang-orang di luar pulau atau seberang sana.

Mereka menertawakan Pulau Ambalau karena tergolong terbelakang dari segala aspek. Mulai dari infrastruktur jalan, gedung sekolah, gedung kesehatan sampai sumber daya manusia (SDM) yang memprihatinkan. Padahal pulau ini tidak kurang pejabatnya. Boleh dikatakan DPRD Buru Selatan periode 2019-2024 adalah milik pulau Ambalau, karena unsur pimpinan lembaga wakil rakyat ini semuanya berasal dari pulau ini. Mungkin mereka lebih senang melihat pulau ini terus menderita, daripada membuatnya tersenyum bahagia. Kalian pasti tahu siapa saja maksud saya.

Baca Juga  Mantan Pelatih Timnas Rahmad Darmawan Merapat ke Demokrat

Padahal sebagaimana kita tahu semua bahwa kurangnya infrastruktur menyebabkan banyak masyarakat hidup terkurung di wilayah terisolasi dengan tingkat kemiskinan yang sangat parah. Berbagai persoalan mendera kehidupan masyarakat mulai dari kemiskinan, wabah penyakit menular, gizi buruk, buta huruf dan keterbelakangan. Obat mujarab yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit tersebut adalah dengan membangun infrastruktur dasar seperti jalan raya, irigasi, air bersih, pendidikan, kesehatan dan sebagainya (Hermanto Dardak, dalam Dian Triyani dkk, 2015).

Sebenarnya, generasi 70-an yang masih hidup sampai hari ini sudah punya keinginan menikmati jalan raya sejak mereka dewasa. Itu artinya, semangat agar infrastruktur jalan segera dibangun sudah disuarakan oleh mereka kepada para pejabat puluhan tahun silam. Alhamdulillah, suara mereka terdengar hanya saja para pejabat tanpa nurani itu mendiamkannya begitu saja.

Tercatat, orang Ambalau yang menjadi ketua DPRD sudah dua orang pada kabupaten berbeda yakni di Kabupaten Buru dan Buru Selatan, saya tidak perlu menyebutkan nama mereka, karena sudah sangat terkenal di daratan Pulau Buru. Sebetulnya mereka sudah memperjuangkan pembangunan infrastruktur jalan, hanya saja perjuangan mereka belum sampai, ibarat judul novel fenomenal : Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai.

Baca Juga  Sekolah di Ambon Masih Libur. Ini Sebabnya

Dengan luasnya yang tak terlalu besar, kalau hanya sekedar membangun infrastruktur jalan keliling pulau ini paling hanya dua kali penganggaran di dalam APBD. Berdasarkan data BPS, luas Pulau Ambalau hanya sekitar 306 km2. Jika ada keseriusan dari wakil rakyat dan pemerintah, infrastruktur jalan di pulau ini sudah bisa dibangun.

Sesungguhnya, masyarakat di pulau ini sangat mendambakan pembangunan jalan raya itu. Supaya penduduk di pulau bisa beraktivitas sebagimana orang-orang di kota. Membangun usaha, perkuat hubungan sosial antar warga pulau, dan yang paling asik adalah bisa ngabuburit saat bulan puasa, itu merupakan impian anak-anak muda pulau ini sejak lama. Dengan telah tersedianya infrastruktur transportasi jalan darat dapat menembus isolasi antar desa yang berlangsung sejak lama, juga dapat membawa pengaruh yang signifikan terhadap tumbuhnya kegiatan-kegiatan ekonomi baru di kalangan masyarakat.

Secara definitif, Vaughn and Pollard (2003), menyatakan infrastruktur secara umum meliputi jalan, jembatan, air dan sistem pembuangan, bandar udara, pelabuhan, bangunan umum, dan juga termasuk sekolah-sekolah, fasilitas kesehatan, penjara, rekreasi, pembangkit listrik, keamanan, kebakaran, tempat pembuangan sampah, dan telekomunikasi.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa manfaat pembangunan infrastruktur jalan secara positif cukup berarti bagi masyarakat Pulau Ambalau. Diantaranya : mempercepat waktu tempuh antar desa, memperlancar aktifitas ekonomi antar warga desa, memperkuat ukhuwah antar warga, dan berpotensi membuka pemukiman baru.

Meskipun jarang memperhatikan nasib pulau dengan jumlah penduduk kurang lebih 20.201 jiwa ini, para caleg atau calon kepala daerah dengan muka tak berdosa terus melakukan kampanye dan kunjungan hanya untuk mendapatkan suara. Setelah terpilih, batang hidungnya pun tak nampak lagi. Bahkan beberapa politisi sering memanfaatkan masyarakat di pulau ini dijadikan lumbung suara pada momentum pemilihan, sesudahnya tak pernah datang lagi.

Baca Juga  Ambiguitas Demokrasi

Secara pribadi, saya tidak terlalu menaruh curiga kepada DPRD dan pemerintah, bisa jadi mereka punya alasan lain, yang lebih mulia sehingga belum merencanakan pembangunan jalan atau sudah direncanakan tapi belum tuntas. Bukan saja di Ambalau, tapi masih ada beberapa wilayah di Buru Selatan yang belum juga dibangun infrastruktur jalannya. Karena memang pembangunan infrastruktur jalan tak hanya memiliki dampak positif, ada juga berdampak negatifnya bagi masyarakat sekitar. Misalnya, berkurangnya lahan produktif pertanian, adanya pengurangan luasan lahan terbuka hijau, rusaknya lingkungan hidup di sekitar pembangunan infrastruktur jalan. Tapi sekali lagi, masyarakat Pulau Ambalau sangat membutuhkan infrastruktur jalan, supaya bisa terselamatkan dari lelucon orang-orang angkuh dan sombong itu.

Di penghujung tulisan ini, saya mewakili suara hati masyarakat Pulau Ambalau berharap Bupati Buru Selatan periode 2020-2024, Safitri Malik Soulissa memiliki perhatian khusus terhadap infrastruktur jalan pulau ini. Semoga bupati dengan segala kemampuan leadershipnya mampu melakukan terobosan hebat dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan ini. Jika terlaksana, kami akan mengenang kebijaksanaan Anda sepanjang hayat. (*)