Penulis: Adriyani Ayu
Salah satu guyonan yang pernah dilontarkan Jurnalis Najwa Shihab adalah “Orang Ambon, kalau bernafas yang keluar itu musik”. Guyonan semacam itu tentu bukan guyonan kosong. Ia lahir dari sejarah panjang tentang Ambon yang telah melahirkan banyak sekali musisi dengan sepak terjang tak teragukan di kancah nasional, bahkan internasional.
Sedikit di antara yang banyak itu adalah Simon Dominggus Pesulima atau Broery Marantika yang terkenal dengan tembang Widuri dan Angin Malam. Selain itu, ada Melky Goeslaw, ayah dari Melly Goeslaw yang terkenal dengan tembang Pergi untuk Kembali dan Tuhan Semesta Alam. Andre Hehanusa yang terkenal dengan tembang Kuta Bali, juga adalah musisi berdarah Ambon. Serta tentu saja, Utha Likumahuwa atau Glenn Fredly.
Banyaknya penyanyi berdarah Ambon yang suaranya tenar melintasi generasi membuat wacana awal tentang Ambon menjadi Kota Musik di tahun 2011 tidaklah berlebihan. Hingga tahun 2018, Konferensi Musik pertama di Indonesia berhasil dihelat di Ambon.
Melalui konferensi ini, publik setidaknya tercerahkan bahwa musik sesungguhnya adalah ekosistem yang jauh lebih luas dari sekadar suara merdu. Ia terlingkupi dalam kebijakan negara, pasar, budaya, dll.




