Jurnalis: “Bapak tidak takut pada ancaman Si Sekjen?”
Mulyono: “Mengapa harus takut? Faktanya, mereka yang takut pada saya.”
Jurnalis: “Mohon dijelaskan, Pak.”
Mulyono: “Lha iya. Mereka menyimpan bukti-bukti kejahatan saya di negeri yang jauh karena takut saya ambil. Sementara, saya menyimpan bukti-bukti kejahatan mereka di rumah saya sendiri tanpa takut diambil mereka.”
***
Tukang Andong
Di bawah langit yang masygul di tengah hiruk-pikuk pencapresan 2014, dua orang jenderal pensiunan (PS dan LBP) yang gagah berani berbicara melalui telepon dalam suasana tegang. Ketika itu PS adalah capres kharismatik melawan Mulyono yang didukung LBP.
PS: “Mengapa Abang mendukung ‘Tukang Andong’ itu?” Tanyanya dengan wajah gusar. “Dia dungu dan pengkhianat. Dulu dia berjanji tak akan mencalonkan diri. Kini dia menantang peluangku jadi presiden.”
LBP: “Aku dukung dia justru karena dia dungu dan punya peluang besar untuk menang. Ini kesempatan kita hidupkan kembali Orde Baru melalui dia.”
Lima tahun kemudian, 2019, PS kembali dipecundangi Mulyono. Dalam kondisi putus asa, PS bersedia menjadi anak buah Mulyono. Ia melihat inilah satu-satunya cara untuk bisa berkuasa pada 2024.
LBP: “Akhirnya kau bersedia juga menjadi kenek Tukang Andong.”









