Surat itu juga mengungkap perjuangan orang-orang di Gaza yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti mengambil air dalam kondisi ekstrem, mengantre untuk mendapatkan makanan dari dapur amal, dan tidak adanya sekolah yang berfungsi.
“Banyak anak-anak telah lupa seperti apa sekolah itu, atau bahkan bagaimana memegang pena atau mewarnai buku catatan. Impian mereka terbatas pada mendapatkan satu liter air atau sepiring makanan,” bunyi surat itu.
Wanita itu kemudian menyoroti bahaya kesehatan akibat kebakaran, gas beracun, rumah sakit yang rusak, dan kekurangan obat-obatan, di samping kekurangan listrik dan keterbatasan bahan bakar untuk memasak.
Ia meratapi kenangan yang tertinggal di jalan-jalan yang kini tertutup debu dan puing-puing, jalan-jalan yang dulunya ramai, penuh tawa anak-anak dan kehidupan yang penuh warna. Kehancuran telah meninggalkan bekas yang nyata di jantung kota.
Mewakili orang-orang di Gaza, ia menyampaikan kerinduan mereka merayakan Ramadan bersama keluarga, menghadiri pernikahan, dan menikmati kehidupan yang semarak di lingkungan mereka. Kemudian ia bertanya bagaimana kehidupan normal seperti itu bisa lenyap dalam sekejap mata.
Namun terlepas dari kesulitan-kesulitan yang terbayangkan tersebut, ia mengakhiri suratnya dengan harapan dan perjuangan. “Orang-orang di Gaza masih berjuang untuk mengembalikan rasa hidup dan kebahagiaan.”









