Arafah: Saat Manusia Mengenali Dirinya dan Bersimpuh di Hadapan Tuhan

oleh -20 views

Padang Arafah juga menghadirkan gambaran miniatur Padang Mahsyar.
Jutaan manusia berkumpul di satu tempat dengan pakaian yang sama, tanpa pembeda apa pun. Sebuah peringatan keras bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada Tuhan tanpa membawa harta, jabatan, atau nama besar.
Dan yang ikut hanyalah amal dan jejak kehidupan yang pernah ditorehkan.

Di tengah dunia yang dipenuhi perlombaan citra dan pemujaan terhadap status sosial, filosofi Arafah terasa seperti tamparan yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa manusia terlalu sering meninggikan dirinya di hadapan sesama, padahal di hadapan Tuhan semua hanyalah hamba yang sama-sama membutuhkan ampunan.

Mungkin karena itu Hari Arafah selalu menghadirkan suasana yang begitu menggetarkan. Ada kesunyian yang hidup di tengah jutaan doa. Ada air mata yang jatuh bukan karena kelemahan, tetapi karena kesadaran bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kesombongan dan permusuhan.

Baca Juga  DPRD Maluku Panggil BPJN Bahas Rencana CCTV AI di Jembatan Merah Putih

Arafah pada akhirnya bukan hanya milik mereka yang berhaji di tanah suci.
Nilai-nilainya adalah panggilan universal bagi setiap muslim—bagi yang tidak berhaji di sunnahkan melakukan puasa: untuk berhenti sejenak, mengenali dirinya, membersihkan hatinya, dan kembali kepada Sang Khaliq dengan jiwa yang lebih rendah hati.

No More Posts Available.

No more pages to load.