Arak-Arakan Hewan Kurban: Tradisi Turun Temurun Warga Wamlana Saat Idul Adha

oleh -86 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

@porostimur.com | Buru : Tradisi arak arakan hewan kurban saat Idul Adha memang sudah menjadi tradisi turun temurun warga yang tinggal di Desa Wamlana, Kabupaten Buru.

Sebelum melaksanakan prosesi penyembelihan, warga terlebih dulu membuat prosesi hantaran atau yang lebih disebut arakan hewan kurban. Bertepatan hari ini minggu (11/08) warga setempat merayakan datangnya hari raya dengan mengikuti prosesi arakan dari kediaman Raja Fenaleisela menuju masjid tempat akan dilaksanakan penyembelihan kurban.

Hewan kurban akan menjalani prosesi arakan sebanyak 7 kali dengan mengitari masjid sebagaimana tawaf di ka’bah.

Link Banner

Ratusan jamaah hadir untuk mengikuti prosesi ini. Pukulan beduk bergema mengiringi suasana saat acara berlangsung. Ini membuat kesan sakral selama arakan berlangsung.

Baca Juga  BMKG: Waspadai Cuaca Buruk Dua Hari ke Depan, Termasuk di Malut

Berdasarkan keterangan tokoh agama setempat, Basir Lumaela. Tradisi mengelilingi masjid memang telah menjadi kebiasan turun temurun sejak dahulu.

Menurutnya, Acara ini sekaligus menjadi sarana siar agama. Prosesi arakan hewan kurban ini sudah ada sejak nenek moyang. Tujuannya adalah untuk mensiarkan agama.

“Arakan ini memang dibuat menyerupai ibadah tawaf yang dilakukan mengelilingi Ka’bah”, kata Basir.

Berbagai kemeriahan juga dihadirkan usai prosesi penyembelihan kurban, seperti menampilkan sejumlah tarian khas masyarakat setempat, ini sebagai bukti bahwa keberagaman antar adat dan agama yang masih terus terawat hinggi kini.

Wakil Raja Fenaleisela, Arif Hentihu menjelaskan, penghantaran hewan kurban dari rumah raja menjadi tradisi yang tidak bisa dilepaskan saat perayaan idul kurban sejak dahulu.

Baca Juga  Gubernur Sebut Maluku Daerah Terluas Dengan APBD Terkecili

Hantaran memang selalu dan harus dilakukan atau diberangkatkan dari kediaman Raja Fenaleisela terlebih dulu. Ini memang sudah tradisi dari leluhur. Karna pusat pemerintahan pada jaman dulu berada atau berpusat di rumah raja.

“Jadi untuk prosesi hantaran juga harus di lakukan dari sini. Ini jugaenandakan sebagai simbol keberagaman antara adat dan agama yang masih terus kita pegang hingga saat ini” jelas Arif Hentihu (ima).