Balqis Humaira dan Ilusi Kritik di Era Algoritma

oleh -937 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada satu keganjilan yang tak pernah benar-benar kita bicarakan dengan jujur dalam hiruk-pikuk politik digital hari ini. Pertanyaannya, mengapa kita begitu mudah terpesona pada suara yang tak punya tubuh.

Nama itu—Balqis Humaira—muncul dan hidup hampir sepenuhnya di media sosial. Terutama Instagram, juga Facebook. Ia tidak hadir di ruang diskusi, tidak di mimbar, tidak pula di forum-forum terbuka yang memungkinkan dialog langsung dan risiko personal.

Ia hadir sebagai teks, berupa unggahan panjang, rapi, sistematis, dengan gaya bahasa anak muda Jakarta—lo, gue, santai, tapi menggigit. Dari sanalah ia bicara politik tingkat tinggi, membedah kebijakan, menguliti kekuasaan, dan menelusuri borok negeri ini dengan kepercayaan diri yang mencengangkan.

Perempuan dua puluh tahunan, berwajah cantik khas Timur Tengah, segera menjadi magnet. Ia tampil dengan kerudung menutup aurat, memberi kesan muslimah seutuhnya—sebuah citra kesalehan yang akrab dan menenteramkan bagi publik mayoritas.

Baca Juga  Doom-Scrolling Picu Gangguan Mental, Anak Muda Jadi Kelompok Paling Rentan

Namun bersamaan dengan itu, riasan wajahnya tebal dan sangat terkurasi, seolah menegaskan bahwa yang kita saksikan bukan sekadar ekspresi iman personal, melainkan sebuah penampilan yang disusun dengan sadar. Perpaduan antara simbol religius dan estetika digital ini membuat pesannya terasa semakin sahih, semakin “aman” untuk dipercaya.

No More Posts Available.

No more pages to load.