Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Banyak Janji

oleh -25 Dilihat
Ansori

Maka ukuran pemimpin bukan seberapa banyak janji yang diucapkan, melainkan seberapa banyak janji yang diwujudkan.

Kita harus berhenti mengagumi pemimpin karena pandai menciptakan harapan. Kita harus mulai menilai mereka karena mampu mengubah harapan menjadi kenyataan.

Sebab demokrasi tidak selesai ketika surat suara masuk kotak suara. Justru di situlah pertanggungjawaban dimulai.

Jika seorang pemimpin gagal memenuhi janjinya, rakyat berhak bertanya. Jika kebijakan menyimpang dari mandat, rakyat berhak mengoreksi. Jika kekuasaan menjauh dari kepentingan publik, rakyat berhak mengatakan: “Tidak!”

Jangan sampai setiap kegagalan selalu ditutup dengan satu kalimat sakti: “Percayalah, semua sedang diproses.”

Rakyat sudah terlalu lama diminta percaya. Kini saatnya rakyat meminta bukti. Karena itu, izinkan saya mempertahankan judul ini dengan nada satire: Bangsa yang besar adalah bangsa yang banyak janji.

Baca Juga  Kejati Maluku Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Kredit BRI Batu Merah, Kerugian Negara Rp4,29 Miliar

Tetapi bangsa yang benar-benar besar adalah bangsa yang berani menghitung: berapa janji yang telah ditepati, berapa yang gagal, dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Sebab sejarah tidak akan mengingat panjangnya pidato seorang pemimpin. Sejarah akan mengingat jejak kerjanya.

Dan rakyat akhirnya akan belajar satu hal: jangan memilih pemimpin karena pandai menjanjikan masa depan; pilihlah mereka yang telah membuktikan bahwa mereka mampu menghadirkannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.