Kontribusi Smelter dan Surplus Perdagangan
Jaka Riyadi menambahkan bahwa neraca perdagangan di Maluku Utara juga menunjukkan tren positif. Devisa ekspor mencapai 3,24 miliar dolar AS, sementara devisa impor sebesar 1,15 miliar dolar AS, menghasilkan surplus perdagangan sebesar 2,09 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2025.
“Kondisi ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi daerah, karena Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara sangat dipengaruhi oleh aktivitas smelter di Halteng dan Halsel,” jelasnya.
Selain sektor tambang, kontribusi ekspor dari sektor non-tambang, khususnya perikanan, juga turut meningkatkan penerimaan negara. Hal ini menunjukkan diversifikasi ekonomi Maluku Utara yang semakin berkembang. Pemerintah terus berupaya untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya untuk menciptakan perekonomian yang lebih berkelanjutan.
Bea Cukai Ternate berharap tren positif ini berlanjut, baik dari sektor tambang maupun non-tambang, demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan perekonomian daerah melalui pengelolaan sumber daya alam yang optimal dan berkelanjutan.
Isu Global dan Kinerja APBN Regional
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Maluku Utara, Tunas Agung Jiwa Brat, memaparkan perkembangan terkini kondisi ekonomi dan kinerja APBN Regional Maluku Utara. Ia menyoroti beberapa isu global, antara lain pergantian pemerintahan di Amerika Serikat yang berdampak pada kebijakan tarif, rivalitas antara AS dan Tiongkok, serta meningkatnya eskalasi geopolitik yang memicu ketidakpastian global.









