Oleh: Yusuf Blegur, Kolumnis
Perbedaan paling hakiki antara kekuasaan dan kepemimpinan itu terletak pada standar moralnya. Penguasa mengambil dan menerima sedangkan pemimpin memberi dan mengorbankan dirinya
Kekuasaan kerap seiring sejalan dengan jabatan, kekayaan dan kemasyhuran. Terkadang saling menyalip, berhadap-hadapan dan menunjukan mana yang paling kuat dan memengaruhi satu sama lainnya.
Begitupun dalam wilayah konseptual dan praksis, kekuasaan dan irisan di dalamnya terkadang menemukan sinergi dan kolaborasi di satu sisi, terkadang harus menghadapi kontradiksi dan konflik di sisi lainnya.
Dalam praktik bernegara, kekuasaan yang harusnya menjadi alat untuk mengelola idealisme, justru tergusur oleh tujuan pragmatis. Kekuasaan lebih sering mendahulukan kemapanan hidup yang individualistik ketimbang mewujudkan nilai-nilai kolektif kebangsaan.
Kemudian pola pendekatan yang membentuk kultur kekuasaan yang hedon dan selfish itu, hanya mendatangkan kemunduran kualitas manusia dan lingkungannya. Negara tidak lebih menjadi mesin pabrik yang menghasilkan produk kemiskinan dan kebodohan rakyatnya. Atau setidaknya seperti institusi pendidikan yang sekedar menghasilkan orang-orang terpelajar tapi bukan sebagai manusia yang manusiawi.









