Wirid Kesunyian dan Tiga Puisi Lain Dino Umahuk

oleh -26 views
Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis

Sudah Berlayar Jauh

angin sore menyapu daun kelapa
kursi kayu ini masih menunggu
seperti dulu saat kau bilang
akan kembali sebelum hujan tiba

ombak datang dan pergi
membawa nama yang tak kusebut lagi

lampu minyak mulai redup
bayangan kita retak di dinding
kau tertawa dalam ingatan
aku diam dalam kenyataan

langit senja memerah pelan
seperti janji yang tak sempat utuh

kalau nanti kau lewat pelabuhan itu
jangan tanya apakah aku menunggu
cukup lihat pasir di telapak kaki
yang masih hangat dari jejak lama

kapal itu sudah berlayar bersama sepi
tapi hatiku belum bisa pergi
di antara debur dan bisik sunyi
kau tinggalkan rindu yang tak bersemi

Baca Juga  Goes to School di SMAN 1 Ambon, Gubernur Maluku Tekankan Pentingnya Nilai Pela Gandong

Ambon, 2 Januari 2026

============

Tak Bisa Menahan Diri

orang bijak menyimpan cinta seperti pisau
tajam, tersembunyi, tak pernah tergesa

tetapi aku adalah malam
yang kalah oleh sepasang mata
langkahku selalu lebih cepat dari doa
lebih jujur dari akal yang ragu.

aku terjatuh
bukan karena tak tahu berdiri
melainkan karena namamu
adalah satu-satunya tempat
luka mau berdiam tanpa takut sembuh

haruskah aku tinggal atau pergi
tanpa pernah benar-benar pulang?

jika ini dosa, ia lahir pelan seperti api kecil
di ruang doa yang lupa cara padam

aku mencoba menahan diri
namun hatiku tak pernah belajar berhenti

lihat sungai itu:
ia berdarah di batu, tersangkut akar
namun tetap mengalir menuju laut
yang akan menelannya
dalam asin yang abadi

No More Posts Available.

No more pages to load.