Cerpen Karya: Seli Oktavia
Dia selalu terlihat cantik karena dia memang cantik. Sejak 20 tahun yang lalu, sejak diriku berumur 5 tahun sampai sekarang dia tetap terlihat cantik. Sejak aku menjadi tetangga barunya, sampai dia akan menikah satu bulan lagi dia selalu terlihat cantik.
Tak dapat kupungkiri perasaanku. Aku tak pandai berbohong pada diriku sendiri. Aku memang mencintainya. Sangat mencintainya.
Dari cinta monyet anak anak sampai menjelang dewasa rasa di hati ini tidak berubah walau secuil. Malah perasaanku padanya semakin membesar tak terbendung layaknya balon yang diisi udara.
Masa kecilku dihabiskan hanya dengannya, segalanya sangat menyenangkan bila bersamanya. Makan bersama, berangkat sekolah bersama, mengerjakan PR bersama, bahkan mandi bersama. Aku takkan lupa semua momen bersamanya.
Hingga akhirnya aku menyadari bahwa hidupku akan hampa tanpa dirinya. Aku menyadari aku sangat membutuhkannya. Dan pada saat itulah aku menyadari bahwa aku mencintainya.
Tapi aku terlalu pengecut untuk mengaku di hadapannya, bahwa aku mencintainya. Hingga dia hilang dalam genggamanku. Dia akan segera dimiliki oleh orang lain.
‘Tok tok tok!!’ Aku meyakinkan diri mengetuk pintu rumahnya. Beberapa menit kemudian seseorang membukanya, orang itu adalah dia.
“Eh Adit, tumben pake ketuk pintu segala. Biasanya aja langsung nyelonong masuk!.” Ucapnya disertai tawa yang renyah. Tawa yang sungguh mendamaikan hati. Tawa yang membuatku kecanduan untuk melihatnya lagi dan lagi.










