Blunder

oleh -469 views
Made Supriatma

Yang jelas, pada 1998, FZ diangkat menjadi anggota MPR sebagai bagian dari utusan golongan. Dia diangkat, bukan dipilih. Di masa kediktatoran Suharto, mustahil untuk menjadi anggota MPR tanpa persetujuan Suharto. Pernahkah Anda melihat video sidang MPR pada 11 Maret, 1998, yang mengangkat kembali HM Soeharto menjadi Presiden RI, dan serempak anggota MPR/DPR berseru, “Setujuuuuuuuuuuuu … “? Kemungkinan besar FZ adalah salah seorang yang berteriak setuju itu.

Kita tahu bahwa tidak mungkin Soeharto mengangkat seseorang yang tidak loyal terhadap dirinya. Kalau Anda sudah besar pada awal tahun 1988, Anda mesti ingat Brigjen Ibrahim Saleh dari Fraksi ABRI yang menginterupsi sidang MPR/DPR dan menyatakan ketidaksetujuan pada pemilihan (sebenarnya penunjukan) Soedharmono menjadi wakil presiden. Dan Soeharto sama sekali tidak suka itu.

Baca Juga  BMH Maluku Utara Salurkan Sound System untuk Perkuat Dakwah di Pedalaman Halmahera

Selain menyingkirkan Ibrahim Saleh dia juga melakukan pembersihan. Banyak orang menduga bahwa interupsi Ibrahim Saleh ini adalah ungkapan ketidakpuasan dari faksi Benny Moerdani terhadap kecenderungan Soeharto yang mulai mengkonsolidasikan kekuasaan di kalangan kroni dan keluarganya. Semua elemen yang berbau Benny Moerdani disikat tidak saja dari MPR/DPR juga di ABRI dan birokrasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.