Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Dia maju sebagai presiden dengan kredensial ahli geopolitik. Dia mantan jenderal. Dia mengaku tahu strategi perang. Dulu, dalam dua kali kampanye presidennya yang gagal itu, dia memproyeksikan diri sebagai orang yang paling tahu dan paling bisa membawa Indonesia menjadi “macan Asia.”
Saat itu, saya masih ingat Prabowo banyak mengutip ahli-ahli strategi perang. Mulai dari Sun Tzu, Clausewitz, hingga Ulysses S. Grant. Ia juga gemar membaca buku sehingga mengesankan sebagai jenderal intelek.
Tentu saja sebagai jenderal dia kenyang dengan teori kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Ia memproyeksikan diri sebagai pemimpin tegas dan orang paling tepat memegang tongkat komando negeri ini.
Sebagai prajurit ia nasionalis. Atau paling tidak itulah image yang berusaha dia proyeksikan. Begitu berkuasa, dia memerah-putihkan semua hal. Mulai dari kabinet hingga koperasi.
Dan tentu yang ada dalam pikirannya hanyalah strategi. Tidak ada tempat yang paling baik untuk mewujudkannya kecuali dalam politik luar negeri. Itulah sebabnya dia pergi kemana-mana. Ia menunjuk salah satu anak didiknya yang paling loyal menjadi menteri luar negeri tanpa latar belakang diplomasi kecuali duduk di Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri.









