Capaian Pembangunan Perempuan Maluku Masih Jauh di Bawah Laki-laki

oleh -50 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku mencatat, pembangunan manusia yang dicapai laki-laki di Malukumasih lebih tinggi dibanding perempuan. Hal ini tercermin dalam IPG Maluku pada tahun 2020 yang mencapai 92,07.

Kepala BPS Maluku, Asep Riyadi melaui keterangan tertulisnya yang diterima Porostimur.com, Sabtu (10/4/2021), menyebut capaian pembangunan manusia laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Tercatat bahwa IPM laki-laki mencapai 73,01 sementara IPM perempuan sebesar 67,88.

“Capaian IPG tahun 2020 turun 0,07 poin dibandingkan tahun 2019 yang lebih baik
dengan capaian sebesar 93,04. Capaian ini merefleksikan masih adanya disparitas
gender,” bebernya.

Asep menjelaskan, untuk melengkapi penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), United Nations Development Program (UNDP) memasukan aspek gender ke dalam
konsep pembangunan manusia. Menurut Asep, IPG merupakan rasio IPM perempuan dengan laki-laki, dihitung untuk melihat capaian pembangunan manusia berdasarkan gender.

“IPG dapat diinterpretasikan sendiri, tidak harus dianalisis bersama IPM. Semakin mendekati angka 100, maka semakin kecil ketimpangan yang terjadi antara perempuan dengan laki-laki, ” ujar Asep.

Baca Juga  Ledakan di Depan Gereja Katedral Makassar, Motor Terbakar di Pintu Masuk

“Misalnya, IPG lebih besar dari 100, capaian perempuan lebih besar dari capaian laki-laki. IPG sama dengan100, capaian perempuan sama dengan capaian laki-laki. IPG lebih kecil dari 100, capaian perempuan lebih kecil capaian laki-laki,” imbuhnya.

Asep bilang, dari aspek pendidikan dan ekonomi, capaian perempuan Maluku juga lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Berdasarkan data BPS, pada tahun 2020, perempuan yang berusia 25 tahun ke atas di Maluku yang telah menempuh pendidikan selama 9,80 tahun. Sementara laki-laki telah menempuh pendidikan selama 10,07 tahun.

Dari sisi ekonomi, rata-rata pendapatan perkapita perempuan di Maluku yang diproksi dengan rata-rata pengeluaran per kapita sekitar
7,63 juta rupiah selama setahun.

Baca Juga  Tahan Alat Berat, Ini Pernyataan Kuswandi Buamona

“Jumlah ini lebih kecil dibanding pengeluaran per kapita laki-laki yang mencapai 11,89 juta rupiah selama setahun. Pandemi Covid19 berdampak pada penurunan pengeluaran per kapita baik laki-laki maupun perempuan, berturut-turut mengalami penurunan sebesar 271 ribu rupiah dan 144 ribu rupiah,” katanya.

Menurut Asep, disparitas gender dari sisi pendidikan memang masih terjadi. Namun, kondisinya lebih baik bila dibandingkan sisi ekonomi.

Beberapa indikator pendidikan bahkan telah
menunjukkan bahwa capaian perempuan telah melampaui laki-laki, misalnya harapan
lama sekolah dan angka partisipasi murni (APM).

“Harapan lama sekolah perempuan
pada tahun 2020 tercatat mencapai 14,28 tahun, sementara harapan lama sekolah laki-
laki hanya 13,82 tahun. APM perempuan pada tingkat SMP dan SMA juga menunjukkan
pencapaian yang lebih baik dari laki-laki. APM SMP dan SMA untuk perempuan masing-
masing 76,08 persen dan 66,15 persen sementara laki-laki masing-masing 74,27 persen dan 63,60 persen,” ungkapnya.

Baca Juga  5 Pendaki Gunung Cantik yang Buktikan Wanita Itu Tangguh dan Kuat

Sedangkan dari sisi ekonomi, menurut Asep, disparitas gender cenderung lebih lebar.

“Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2020 mencatat bahwa penduduk laki-laki memiliki Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 76,49 persen. Sementara TPAK penduduk perempuan hanya sebesar 53,52 persen,” pungkasnya. (keket)