Pelarian yang akhirnya membuatnya terbelenggu dengan perasaan-perasaan hancur dan kecewa. Hancur karena Thomas memiliki hari-hari yang buruk sementara Gie yang selalu mengharapkan hari itu tiba di hidupnya. Kecewa karena Gie harus mengetahui kenyataan bahwa Thomas akan meninggalkan dunia selamanya pada akhirnya.
Kemudian Thomas akan menyadari ada sedikit ekspresi yang selalu tak ingin ia harapkan dari orang lain. Tanda-tanda kegagalan ketika Thomas mencari sosok yang menerima dengan apa adanya meski untuk yang terakhir. Gie menunjukkan gelagat terkejut. Takut. Tubuhnya kaku memandangi Thomas yang perlahan menjadi cahaya yang waktu itu dilihatnya sangat silau. Cahaya yang kemudian akan jadi silau yang barangkali diingat sepanjang hidupnya.
—
Gie, dunia ini tak pernah adil unutukku. Untukmu.
Dunia tak pernah adil untuk semua orang.
Gie terus mengingat kalimat itu ketika obrolan mereka di jembatan penyebrangan. Hari ini Gie datang untuk merokok seperti biasanya. Ia terduduk bersandar pada besi-besi penimpang dinding yang berkarat dan usang. Suara hujan yang keras diatap seng membawanya pada alunan sedih. Kemudian ia berhasil membacakan surat lama,
“Teruslah hidup dengan sia-sia,”
Kemudian membakarnya. (*)











