Cerita Pelarian dan Hidup yang Sia-sia

oleh -486 views

Cerpen Karya: Annisa Salsabila

SEBERKAS cahaya silau menembus kaca-kaca yang melapisi seluruh gedung kantor-kantor megah di tengah kota. Namun ada satu yang paling terang dihadapan Gie. Hingga kemudian ia menyadari laki-laki yang berbadan tegap yang daritadi disampingnya ikut menyaksikan pemandangan aneh di siang hari.

“Silau ya, maaf ya.” kata laki-laki itu dengan suaranya yang santun di telinga. Gie menoleh, memperhatikan setiap garis wajah yang klasik namun tidak asing itu. Laki-laki dengan mata yang bersih dan wajah berseri-seri. Indah. Luar biasa pemandangan insan yang mengantongi semua kata sempurna.

“Thomas,” katanya memperkenalkan
“Gie,”

“Aduh, sori banget, sinyalnya jelek.. Halo? Halo?” Begitu kiranya cara klasik mengakhiri obrolan yang tidak diinginkan lewat telepon.

Baca Juga  Korban Kebakaran Megamall Manado Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Dihentikan

Gie menggeser-geser layar ponselnya. Menghapus semua notifikasi yang nampak di layar hitam itu. Sudah hampir seminggu setelah kedatangannya. Harus mulai bekerja. Ia berjalan gontai, beradaptasi dengan trotoar yang licin akibat hujan barusan. Menyusuri kota, melihat kendaraan, dan gemerlap lampu-lampu di jalan. Tentu sesekali sambil menyesap rokok.

Kota ini terasa asing, namun sangat menerimanya. Berbekal kata orang, kota yang jadi pelariannya ini sungguh membuatnya jatuh cinta di hari pertama. Ramai, namun damai. Hiruk pikuk yang berisik sama sekali tak mengganggunya. Setiap sudutnya juga dirasa sangat mengenalnya. Gie yang pemberani namun sopan dan tenang.

No More Posts Available.

No more pages to load.