Tapi protes Malaysia ditanggapi dingin saja oleh Kementerian Luar Neger China.
“Kapal survei (milik China) sedang melakukan penyelidikan ilmiah normal di wilayahnya sendiri,” kata Kementerian Luar Negeri China.
Beda urusan bila Malaysia mengirimkan kapal perang ke perairan Sarawak dan menendang coast guard China dari sana, pastilah Beijing cuma diam membisu.
Hal di atas inilah yang diantisipasi Indonesia, diplomasi tanpa dibarengi kekuatan bersenjata bakal dianggap angin lalu walau Indonesia berada di pihak yang benar.
Maka pembelian F-15 Eagle II dan Rafale dianggap tepat hingga pengamat militer China, Han Dong, mengamini hal itu.
“F-15EX dapat dikatakan sebagai pesawat tempur berat bermesin ganda tercanggih di dunia saat ini, dan efektivitas tempurnya secara keseluruhan sedikit lebih tinggi daripada Rafale Prancis,” ujar Han Dong dikutip dari thepaper.cn.
“Pembelian dua pesawat tempur generasi ketiga dan setengah tempur secara berturut-turut oleh Indonesia akan sangat meningkatkan kekuatan Angkatan Udara. Bersama dengan F-16 dan Su-27/30 yang dibeli sebelumnya, jumlah jet tempur horizontal generasi ketiga dari Angkatan Udara Indonesia akan melebihi 100, yang merupakan terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara. Nomor satu,” tambahnya.




